Search for:

Serunya Bermain “Ular Tangga Kespro”

Eka (15 tahun) bersama teman-teman sebayanya bergegas menuju Balai Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten pagi itu, Minggu 22/11. Mereka akan mengikuti Pertemuan Remaja yang rutin digelar setiap bulan. Tepat pukul 9.30 acara itu dimulai. Tak seperti biasanya, ada hal menarik saat tim SPEK-HAM membawa alat permainan bernama Ular Tangga Kespro. Kespro merupakan singkatan dari Kesehatan Reproduksi.

Berbeda dengan Ular Tangga pada umumnya yang berukuran kecil. Ular Tangga yang satu ini memang didesain khusus berukuran 2×2 m, terdapat gambar organ reproduksi, informasi kespro dan setiap nomor terdapat daftar pertanyaan-pertanyaan seputar remaja.

Permainan dimulai, Henrico Fajar dari SPEK-HAM memandu permainan ini, dia membagi peserta menjadi 3 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 6-7 orang. Mereka diminta untuk mimilih satu orang yang akan menjadi pemain.

Untuk menentukan langkah pemain, secara bergantian pemain mengambil dan melempar Dadu  Eka, memegang dan melempar Dadu berukuran besar itu, lalu muncullah angka 3, dia harus berjalan 3 langkah. Pertanyaanpun diberikan kepada dia dan kelompoknya. Apa yang dimaksud remaja? “Remaja adalah peralihan dari anak – anak menuju dewasa”, ungkap Eka.

Pemain lainnya, Putri mendapat giliran untuk melempar Dadu, lalu muncul angka 6 dengan pertanyaan apa yang diketahui tentang mimpi basah? “mimpi basah adalah keluarnya cairan sperma ketika sedang tidur,” ungkap Putri.

Demikian secara bergantian para pemain bermain sampai menuju garis finish. Nova salah seorang peserta, mengaku senang dan nampak antusias mengikuti permainan ini. “Informasi yang disampaikan sangat membantu remaja agar tidak mengalami persoalan dengan kesehatan reproduksinya,” ungkap Nova.    Sebagai informasi permainan ular tangga kespro dimaksudkan untuk membantu peserta memahami materi mengenai kesehatan rerpoduksi yang mencakup segala aspek. Kesehatan reproduksi merupakan suatu kesehatan fisik, mental, maupun sosial secara utuh dan solid. Henrico Fajar (Divisi Kesmas SPEK-HAM)

FKD Tlogorandu Susun Rencana Kerja

Forum Kesehatan Desa (FKD) Tlogorandu kembali menggelar pertemuan pada Selasa 17/11 di Balai Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Kegiatan ini diikuti oleh 25 orang peserta yang terdiri dari perangkat desa, bidan desa, kader PKK, kader posyandu, SKD dan perwakilan remaja. FKD berhasil menyepakati rencana kerja selama 1 tahun ke depan.

Mugiyati, Ketua FKD Tlogorandu menyampaikan rencana kegiatan dihadapan peserta pertemuan

Menurut Ikrimah Mufidati, selaku Bidan Desa setempat, FKD yang baru dibentuk pada 15/10 lalu ini bertujuan untuk menggali kebutuhan bidang kesehatan yang akan disampaikan kepada pihak desa dalam forum musyarawarah desa. “FKD ini dibentuk untuk menggali persoalan-persoalan kesehatan yang masih terjadi di desa, hasil temuan masalah akan disampaikan ke pemerintah desa sehingga menjadi program kesehatan,” ungkap Mufi.

Sementara itu Purwanta, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tlogorandu menyampaikan pentingnya memberikan perhatian pada kesehatan ibu dan anak diantaranya dengan penambahan makanan bergizi, selain itu pentingnya mengembangkan tanaman obat keluarga (Toga) di pekarangan rumah masing-masing warga.

“Pemenuhan gizi pada ibu hamil dan bayi bisa dengan memanfaatkan tanaman pekarangan di masing-masing rumah warga, kita tidak perlu membeli, cukup memanen sendiri saja”, ungkap Purwanta.

Henrico Fajar dari SPEK-HAM menyampaikan FKD dibentuk untuk mendukung Desa Siaga.  Desa Siaga merupakan bagian atau wadah partisipasi bagi masyarakat dalam mengembangkan kesehatan di tingkat desa. “FKD mempunyai dasar hukum, yaitu Kemenkes RI No.15299/menkes/SK/X/2010,” ungkap Fajar. Menurutnya Fungsi FKD untuk mengembangkan kesehatan desa yang meliputi gotong royong masyarakat, upaya kesehatan, pengamatan dan pemantauan kesehatan. Dia berharap dengan adanya FKD ini harus disertai dengan kegiatan dan aksi nyata. Henrico Fajar – Divisi Kesmas SPEK-HAM

Saatnya Pria Ikut KB

Suasana pertemuan kelompok laki-laki

Demikian disampaikan Aulia Mestikasari Petugas Lapangan Keluarga Berencana  (PLKB) Kecamatan Juwiring dalam Pertemuan Bulanan Kelompok Suami RW 5 Kemiri, Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten Sabtu 14/11. Dia mengatakan alat kontrasepsi untuk pria selain kondom, ialah Vasektomi atau Metode Operasi Pria (MOP) yang menurutnya sangat efektif mencegah tejadinya kehamilan pada perempuan.

“Semua pria boleh mengikuti MOP sesuai dengan syarat yang telah ditentukan, diantaranya tidak ingin mempunyai anak lagi dan jumlah anak sudah 2 atau lebih dengan umur anak terkecil diatas 2 tahun”, ungkap Aulia.

Joko salah seorang peserta menyampaikan saat ini yang terjadi di masyarakat luas ialah beredarnya informasi mengenai mitos MOP, diantaranya mengurangi libido, menyebabkan kanker prostat, dikebiri, menganggu hormon dan kesehatan pria, dsb. Dia mengatakan setelah mendapat informasi dari PLKB bisa simpulkan hal tersebut hanyalah mitos belaka.   

Henrico Fajar dari SPEK-HAM menyampaikan pentingnya memaknai program KB bukan hanya sebatas pada penggunaan alat kontrasepsi, apalagi menurutnya saat ini target aseptor KB selalu dibebankan pada perempuan. “Untuk meminimalisir gagal KB, saat pemilihan alat kontrasepsi perlu ada komunikasi atau konsultasi dengan pasangan dan tenaga kesehatan”, ungkap Fajar.

Dia menambahkan kondisi tubuh setiap perempuan jelas berbeda-beda, selain itu mendorong partisipasi laki-laki untuk menjadi peserta KB merupakan salah satu cara yang tepat meningkatkan capaian program KB.   Sebagai informasi sejak tahun 2018 SPEK-HAM bersama Yayasan IPAS Indonesia telah menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) di Kecamatan Juwiring, Klaten Tengah dan Bayat. Sebanyak 250 orang perempuan muda dan 400 orang perempuan dewasa sudah menerima manfaat dari program ini. Kini di tahun 2020 program ini mengajak keterlibatan laki-laki, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta kelompok remaja. Henrico Fajar (Kesmas SPEK-HAM)

Remaja Juwiring Gelar Diskusi Seks dan Gender

Yayasan SPEK-HAM bekerjasama dengan Yayasan IPAS Indonesia kembali menggelar Diskusi Remaja Juwiring yang diselenggarakan pada Minggu 20/9 bertempat di Balai Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Kegiatan yang mengangkat tema Seks dan Gender ini diikuti oleh 20 orang remaja juwiring dan menghadirkan Fasilitator Fajar Kristiarji W dari SPEK-HAM.

Pada sesi awal Fasilitator mengajak peserta untuk menggambarkan diri atau menyimbolkan diri masing-masing peserta kemudian diminta untuk menyampaikan alasan mengapa memilih gambar atau simbol tersebut. Selanjutnya peserta dibagi menjadi 2 kelompok masing-masing menuliskan ciri-ciri laki-laki dan perempuan, setelah itu mengajak peserta bermain Setuju, Ragu-Ragu dan Tidak Setuju.   

Setelah permainan ini selesai fasilitator menjelaskan pengertian seks dan gender, bahwa Gender itu dibentuk oleh masyarakat, dan dipengaruhi oleh suatu sistem kepercayaan agama, budaya, politik, dan pendidikan. “Jadi gender itu dibentuk oleh manusia dan sistem kepercayaan di masyarakat. Contoh hanya laki – laki yang menjadi pemimpin, ketika berbicara soal konteks pemimpin ini menyangkut satu bentuk gender yang dapat dipertukarkan, tidak kemudian menjadi dominasinya laki – laki atau perempuan tetapi mungkin bisa saling berbagi peran”, ungkap Fajar

Masih menurut Fajar masih dijumpai konstruksi sosial atau kebiasaan di masyarakat kita, yang memberikan pelabelan bahwa laki-laki harus kuat, harus jadi pemimpin yang kemudian mencirikan bahwa laki-laki harus seperti ini, perempuan harus seperti itu. Padahal hal tersebut bisa ubah dan dikomunikasikan, karena Gender itu bisa dipertukarkan tetapi kodrat tidak bisa dipertukarkan. Dalam sesi ini juga dijelaskan pula tentang perbedaan biologis laki-laki dan perempuan. Sementara itu Fajriyah salah seorang peserta menyampaikan banyak kasus kekerasan dalam pacaran (KDP) yang menjadi korban adalah perempuan. Menanggapi hal tersebut, Fajar menyampaikan karena laki-laki selalu dikontruksikan sebagai individu yang kuat, mendominasi dan memiliki kontrol sehingga ini berdampak pada relasi laki-laki dan perempuan. Sebagai perempuan harus melihat kembali relasi yang terjalin seperti apa, kalau sudah tidak nyaman maka hentikan hubungan atau relasi tersebut. Pada sesi akhir Fasilitator meminta peserta untuk menggelompokkan ciri-ciri perempuan dan laki-laki ke dalam kelompok gender dan kodrat. Henrico Fajar/Divisi Kesmas SPEK-HAM

Remaja Juwiring Gelar Diskusi” Self Love”

Motivator memandu acara diskusi remaja di Juwiring

SPEK-HAM bersama Yayasan IPAS Indonesia kembali menggelar Diskusi Remaja Juwiring dengan mengangkat tema “Self Love” pada minggu 23/8 di Balai Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Kegiatan yang bertujuan untuk menemukenali potensi diri, kelebihan dan kekurangan diri ini menghadirkan pembicara Heri Susilo, seorang Happiness Motivator dari Solo dan dipandu oleh Henrico Fajar dari SPEK-HAM. Dalam pengantarnya Fajar menyampaikan Self love menjadi materi yang cukup penting bagi remaja di masa kini, apalagi kalau kita melihat kasus-kasus kespro yang masih sering terjadi seperti hubungan seks sebelum menikah, kehamilan pada remaja, perkawinan anak dsb.

Menurutnya dengan remaja mencintai dirinya maka harapannya remaja tidak mudah terjerumus dalam praktik-praktik yang merugikan mereka. Mereka menjadi pribadi yang  bisa lebih  menghargai diri sendiri dan orang lain di sekitarnya sehingga terjalin relasi yang saling menguntungkan dan menguatkan. Selain itu dengan mencintai diri sendiri, remaja dapat saling mendukung satu dengan yang lainnya atau menjadi teman sebaya.

Dalam paparannya Heri menyampaikan pentingnya mencintai dirinya sendiri, menghargai dirinya sendiri dan menjaga dirinya sendiri. Menurutnya memahami dirinya sendiri seperti mengetahui ciri fisik yang ada di dalam dirinya, mengetahui kepribadian atau watak, memahami bakat yang ada di dalam dirinya, mengetahui kelebihan dan kekurangan diri sendiri dan menerima dirinya seutuhnya adalah sangat penting dibutuhkan remaja di masa kini.

Suasana diskusi Remaja

Disisi lain Hari menyampaikan masih banyak remaja yang kurang percaya diri karena melihat banyak kekurangan di dalam dirinya. Misalnya malu berbicara di depan umum karena dilihat  banyak orang. “Dia bingung dan grogi karena tidak terbiasa berbicara di depan, bahkan sampai  menangis karena malu  berbicara di depan umum, ungkap Heri.

Sementara itu Nur Qomar mempunyai phobia berlebihan terhadap ular dan anjing karena pengalaman yang buruk di masa lalu. Menanggapi hal tersebut, Heri memberikan langkah dan cara untuk menyelesaikannya dengan tujuh langkah yang membuat remaja bangkit kembali, diantaranya memberikan kalimat afirmasi terhadap dirinya sendiri, kemampuan berbicara dengan diri sendiri (self talk), bersyukur atas yang dimiliki, belajar untuk memaafkan, berhenti untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain, melakukan kegiatan positif dan melakukan penyegaran atau olahraga  terhadap diri sendiri.

Selain itu, ada cara untuk menyelesaikan masalah yang menimpa diri kita diantaranya mengidentifikasi masalah, melakukan analisa terhadap masalah, kembangkan rencana untuk penyelesaian masalah, terapkan rencana yang sudah dibuat sebelumnya  dan lakukan evaluasi untuk melihat kembali pada keputusan yang diambil. Pada tahap evaluasi atau tahap akhir Heri Susilo mengajak para remaja untuk melakukan self talk terhadap dirinya sendiri agar remaja merasa tenang. Hal ini bertujuan untuk membangkitkan rasa percaya diri terhadap remaja, meningkatkan kualitas terhadap diri sendiri, merubah pikiran (mindset) remaja agar lebih maju dan membangun komunikasi terhadap dirinya sendiri. Tiara/Magang, Henrico Fajar/Divisi Kesmas SPEK-HAM.

Giatkan Kembali FKD

Fasilitator memandu diskusi FKD

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Pertemuan Kelembagaan Kesehatan Tingkat Desa pada Selasa 15/9 di Balai Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Kegiatan yang terselenggara atas kerjasama antara SPEK-HAM, Yayasan IPAS Indonesia dan Pemerintah Desa Tlogorandu ini dihadiri oleh Perangkat Desa, Bidan Desa, BPD, Kader PKK, Kader Kesehatan, Kader Posyandu  dan Karangtaruna.

Forum Kesehatan Desa (FKD) yang merupakan wadah partisipasi bagi masyarakat dalam mengembangkan pembangunan kesehatan di tingkat desa. Dalam pertemuan ini sejumlah kader dan bidan desa mengagas agar FKD yang pernah terbentuk di desa ini giatkan kembali. Menurut Mudidati Ikrimah, Bidan Desa setempat menyatakan FKD bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Suasana diskusi kelompok di FKD

Dia menambahkan fungi FKD ialah mengembangkan sistem kesehatan desa yang meliputi  kegiatan gotong royong masyarakat, upaya kesehatan, pengamatan dan pemantauan kesehatan (surveling), dan pembiayan kesehatan, juga sebagai wadah untuk merumuskan dan memecahkan masalah kesehatan. Dasar hukum FKD tertuang dalam Kepmenkes RI No.1529/Menkes/SK/X/2010, tahun 2010 tentang Pedoman Umum Pengembangan Desa/kelurahan Siaga Aktif.

Sementara itu PJ Lurah Tlogorandu, MS Yulianto menyatakan mendukung upaya-upaya digiatkannya kembali FKD, namun pihaknya meminta agar organisasi ini nantinya tidak hanya berjalan ditempat melainkan harus ada progress ke depannya untuk masyarakat. “Pada dasarnya saya mendukung kegiatan FKD, tetapi ya jangan dibentuk lalu ada pengurusnya selesai, sekali lagi saya mendorong adanya peran-peran konkret di tengah-tengah masyarakat”, ungkap Yuli.   Pertemuan yang bertujuan unutk membangun dukungan dari lembaga-lembaga kesehatan tingkat desa terhadap implementasi program Peningkatan Kesehatan Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) ini berhasil memetakan beberapa persoalan kesehatan di desa Tlogorandu, diantaranya masih dijumpai kasus keguguran sejumlah 5 kasus, ibu hami resiko tinggi 16 kasus (seperti: KEK, riwayat operasi Caesar, usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun, hipertensi, dll). Henrico Fajar (Divisi Kesmas SPEK-HAM)

SUAMI PEDULI

Diskusi kelompok Suami

Pendukungan Kelompok Suami untuk ikut peduli dan terlibat mendukung istri dalam hal pengambilan keputusan yang berkaitan dengan Kesehatan Reproduksi (Kespro) terus dilakukan oleh SPEK-HAM, dengan suport dari Yayasan IPAS Indonesia untuk Program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Terintegrasi (PEKERTi). Salah satu bentuk dukungan adalah dengan memfasilitasi Kelompok Suami untuk berkumpul dan berdiskusi yang pada bulan ini dilakukan pada tanggal 13 September di Aula Kelurahan Bareng dengan tema “Gender dan Hak Kesehatan Seksual Reproduksi (HKSR)” dengan dihadiri 13 orang.

Diawali dengan curah pendapat untuk mengetahui sampai sejauh mana cara pandang peserta mengenai Hak Kesehatan Seksual Reproduksi. Fasilitator mengemukakan pernyataan seperti “alat kontrasepsi ditujukan untuk perempuan dan laki-laki”, “keguguran merupakan tanggungjawab laki-laki dan perempuan”, “merencanakan dan mencegah kehamilan merupakan tugas perempuan”, “gagal KB yang mengakibatkan kehamilan merupakan tanggungjawab perempuan” kemudian peserta diminta untuk menjawab “setuju”, “tidak setuju” dan “ragu-ragu”.  Dari hasil jawaban peserta dapat dilihat bahwa sudah ada cara pandang yang menunjukan empati dan kepedulian terhadap HKSR.

Diskusi kemudian berkembang dengan sharing dari peserta mengenai penyebab kematian ibu melahirkan yang ditemui di sekitar mereka, yaitu : depresi, tensi tinggi, pendaharan, umur masih muda, penyakit kronis, diabetes dan asupan gizi kurang. Sharing kemudian dilanjutkan dengan pemaparan data Angka Kematian Ibu (AKI) Kabupaten Klaten berdasarkan catatan Dinas Kesehatan di tahun 2019 ada 12 kasus yang salah satunya disebabkan karena pendaharan. Kemudian fasilitator menegaskan bagi ibu yang mengalami penghentian kehamilan baik karena keguguran atau pengguguran perlu mendapatkan layanan berupa Asuhan Paska Keguguran.

Diskusi kemudian ditutup dengan komitmen dari peserta untuk terus peduli dan terlibat dalam mendukung istri mengenai kesehatan reproduksi. Selain itu juga di gali masalah kesehatan reproduksi yang bisa dialami oleh laki-laki, misalnya : Kanker Prostat, sperma tidak berkualitas. (Elizabeth Yulianti – CO Program PEKERTi)

SPEK-HAM Libatkan Kelembagaan Tingkat Desa dalam Program PEKERTi

PM menyampaikan informasi temuan kasus Kespro di Kabupaten Klaten

SPEK-HAM bersama Yayasan IPAS Indonesia dan Pemerintah Desa Tlogorandu menggelar kegiatan pertemuan kelembagaan kesehatan tingkat desa pada selasa, 28/7 di Balai Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten.

Kegiatan yang bertujuan untuk memberikan informasi tentang Program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) dan mengidentifikasi peran-peran kelembagaaan tingkat desa ini diikuti oleh 25 orang peserta yang terdiri dari perangkat desa, bidan desa, kader PKK, kader posyandu, SKD dan perwakilan Karangtaruna.

Danang Wijayanto selaku Manajer Program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) mengatakan, bahwa fokus program ini adalah pada pendidikan masyarakat tentang kesehatan reproduksi dan pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan. Menurutnya kabupaten Klaten masih mempunyai pekerjaan rumah dalam hal tingginya kasus-kasus Angka Kematian Ibu (AKI). Pada tahun 2017: 18 kasus, 2018: 13 kasus dan tahun 2019: 12 kasus. Sementara itu jumlah kasus keguguran, pada tahun 2017: 508, 2018: 442 dan tahun 2019: 465 kasus.   

Oleh karena itu butuh dukungan dan keterlibatan semua elemen masyarakat, baik itu pemerintah, perempuan, laki-laki, remaja, tokoh masyarakat, tokoh agama, kader kesehatan, dsb. Dalam kegiatan ini peserta mendiskusikan tentang peran-peran dan tantangan dalam mengimplementasikan program kesehatan khususnya kesehatan reproduksi perempuan di tingkat Desa.

Beberapa peran-peran kelembagaan desa yang terdiri dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD), PKK Posyandu, SKD dan Karangtaruna telah teridentifikasi. Misalnya PKK melalui Pokja IV telah menjalankan program kesehatan, meliputi: sosialisasi dan konseling KB, sosialisasi tentang kesehatan lingkungan, sosalisasi pencegahan stunting, pembagian dan penyuluhan gizi untuk anak, sosialisai dan penyuluhan reproduksi remaja, sosalisasi dan pembuatan biopori dan sosialisasi tentang PHBS.

Sementara itu Dita Prasetyawati perwakilan Karangtaruna Desa Tlogorandu menyampaikan  guna mengupayakan penurunan angka Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), perkawinan anak, kehamilan remaja. Saat ini Karangtaruna telah memberikan pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi kepada para remaja. Hanya saya menurutnya partisiapasi remaja dalam kegiatan ini masih rendah.     Sebagai informasi Yayasan IPAS bersama dengan SPEK-HAM saat ini sedang menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) di Kecamatan Juwiring, Klaten Tengah dan Bayat. Fokus di tahun 2020, selain melibatkan perempuan remaja, juga melibatkan kelompok laki-laki, tokoh agama dan masyarakat. Henrico Fajar/Divisi Kesmas/SPEK-HAM.