Search for:

Refleksi Perempuan Pundungan, Hadapi Pandemi Covid-19

Dua tahun berlalu Pandemi Covid-19 meluluhlantakkan kehidupan manusia di seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Masyarakat di perkotaan maupun di pedesaan berupaya keras bertahan dalam situasi yang sulit ini. Jutaan orang mendapatkan perawatan di Rumah Sakit, menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. Tak sedikit warga masyarakat yang menjadi korban meninggal di masa Pandemi ini.

Pemerintah pun mengeluarkan berbagai macam aturan pembatasan aktivitas warga di luar rumah, WFH, Sekolah Daring, Penerapan Protokol Kesehatan dan sebagainya. Vaksin pun digenjot untuk membentuk dan menjaga imunitas tubuh agar tidak mudah jatuh sakit, sehingga aktivitas warga di luar rumah secara bertahap bisa kembali menjadi normal.

Masa pandemi ini juga dialami oleh Perempuan di Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Dalam Diskusi bulanan yang digelar di Balai Desa Pundungan pada Sabtu 11/6, beberapa peserta mengaku kesulitan karena dampak ekonomi yang tidak mudah untuk dilewati. Tutik, salah seorang peserta menuturkan penghasilannya berjualan kue dan nasi mengalami penurunan. “Sebelum Pandemi banyak orang yang pesan makanan ke saya, di masa pandemi ini karena kegiatan tidak boleh dilakukan ya otomatis yang pesan makan tidak ada, penghasilan menjadi menurun, “ungkap Tutik.

Hal senada disampaikan oleh Rini Dwi Lestari menurutnya ekonomi warga banyak yang mengalami kesulitan, beberapa warga di PHK, ada yang dipotong gajinya dan sebagainya. Untuk mengatasi hal itu bantuan pemerintah di berikan kepada warga terdampak, misalnya bantuan UMKM, BLT Dana Desa BST dari Kemensos dan Bantuan Sembako dari Pemprov dan Pemkab.

Masih menurut Rini, Pemerintah Desa Pundungan memberikan perhatian khusus pada warga yang menjalani Isoman dengan pemberiatan bantuan Sembako, Susu, Buah-buahan hingga obat-obatan selama 14 hari masa Isoman. Ini dilakukan agar warga benar-benar mematuhi waktu isoman yang telah ditetapkan pemerintah.    Selain itu masalah lain yang muncul adalah adanya Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), Kekerasan Seksual pada anak dan KDRT. Sebagai informasi kegiatan Diskusi Komunitas Perempuan Pundungan ini terselenggara atas kerjasama Pemerintah Desa Pundungan, SPEK-HAM dan didukung oleh Global Fund for Women. Henrico Fajar/Divisi Kesmas.

SPEK-HAM Ajak Perempuan Pundungan-Klaten,Kenali Jenis-Jenis Kekerasan

Pemerintah Desa Pundungan bersama SPEK-HAM kembali menggelar Diskusi Komunitas Perempuan pada Sabtu 12/6 di Balai Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten.

Diskusi kali ini mengangkat tema tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan (KtP).

Elizabeth Yulianti Raharjo dari SPEK-HAM selaku Fasilitator mengajak peserta untuk menemukenali jenis-jenis kekerasan yang seringkali dialami perempuan.

“Kekerasan terhadap perempuan itu bisa terjadi di sekitar kita dan bisa menimpa siapa saja tanpa mengenal latar belakang pendidikan, keluarga, tingkat ekonomi dan sebagainya”, ungkap Liza.

Masih menurutnya, dibutuhkan peran masyarakat untuk mencegah terjadinya kekerasan, diantara dengan mewujudkan lingkungan yang ramah dan nyaman serta menyediakan ruang aman bagi semua perempuan.

Para peserta nampak senang mengikuti kegiatan ini karena dikemas dalam rangkaian permainan yang seru sehingga informasi yang disampaikan mudah dipahami. “Saya senang mengikuti kegiatan ini dan kami pun siap untuk membantu mewujudkan ruang aman bagi perempuan,” ungkap Tutik salah seorang peserta diskusi. Sementara itu Danang Setiawan, selaku Kepala Desa Pundungan berharap munculnya kesadaran semua warga untuk berpartisipasi mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Menurutnya saat ini pemerintah desa juga mendukung kegiatan ini utamanya dalam mewujudkan ruang aman bagi perempuan. Henrico Fajar (Divisi Kesmas SPEK-HAM)

Perempuan Pundungan Ikuti Diskusi Kesehatan Reproduksi

Pemerintah Desa Pundungan bersama SPEK-HAM menggelar Diskusi Kesehatan Reproduksi (Kespro) pada Sabtu 16/1. Kegiatan yang diikuti Kepala Desa, Ketua TP PKK dan Kader Kesehatan ini dilaksanakan di Balai Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring.

Suasana Diskusi Kesehatan Reproduksi bersama Kelompok Perempuan di Balai Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten (sumber: dok. pribadi)

Kegiatan diawali dengan pemberian informasi tentang kasus kesehatan reproduksi di Kabupaten Klaten. Disampaikan Henrico Fajar dari SPEK-HAM bahwa data dari Dinas Kesehatan menyebutkan  Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Klaten tahun 2017: 18 kasus, 2018: 13 kasus, tahun 2019: 12 kasus dan tahun 2020 sampai bulan September: 12 kasus. Penyebab AKI antara lain pendarahan, Eklamsi, infeksi, dan lain-lain. Sementara itu Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2017: 162 kasus, 2018: 170 kasus dan 2019: 162 kasus. Kasus Abortus tahun 2017: 508 kasus, 2018: 442 kasus dan 2019: 465 kasus.

Perkawinan anak di Kabupaten Klaten pada tahun 2017: 130 kasus, tahun 2018: 112 kasus dan tahun 2019: 141 kasus. Jumlah remaja yang hamil di tahun 2017: 295 kasus, 2018: 450 kasus dan tahun 2019: 315 kasus. Sementara itu jumlah remaja yang bersalin di Kabupaten Klaten pada tahun 2017: 200 orang. 2018: 136 orang dan 2019: 144.

Sesi diskusi peserta (sumber: dok. pribadi)

Menanggapi data tersebut beberapa peserta menyatakan prihatin dan sedih. “Klaten itukan layanan kesehatan sudah tersedia dan cukup dekat, jadi sebenarnya tidak ada alasan lagi kasus-kasus tersebut bisa terjadi,” ungkap Titik. Dia berharap sosialisasi dan edukasi tentang Kespro bisa ditingkatkan lagi.

Elizabeth Yulianti pandamping dari SPEK-HAM yang memandu Diskusi ini berhasil mengajak peserta untuk memetakan persoalan Kesehatan Reproduksi, antara lain kasus gagal KB, kanker payudara, KTD, keguguran, dan sebagainya. Hasil pemetaan tersebut akan digunakan untuk menyusun materi, sebagai bahan diskusi setiap bulan.

Danang Lurah Pundungan mengatakan akan mendukung setiap kegiatan yang melibatkan perempuan. “Kita ingin mencerdaskan perempuan, siapa tahu dari kita akan muncul narasumber terkait isu kesehatan reproduksi yang berani menyampaikan di desa-desa lainnya”, ungkapnya. Selain itu menurutnya dengan ada adanya pertemuan bulanan ini diharapkan kasus-kasus kesehatan reproduksi semakin berkurang.

Henrico Fajar – Divisi Kesmas SPEK – HAM

Menjadi pendamping kasus adalah sebuah tantangan bagiku

Sudah  dua tahun lebih aku menjadi pendamping perempuan korban kekerasan berbasis gender. Selama menjadi pendamping banyak pengalaman yang kudapatkan. Pengalaman yang baik, menyenangkan dan juga menyedihkan. Aku senang saat ada penyintas yang mau bercerita denganku, karena dengan begitu berarti penyintas percaya denganku. Mereka tidak berani cerita dengan orang – orang terdekat mereka seperti saudara atau orang tua. Mereka tidak mau membebani masalah mereka pada keluarga.  Saat bercerita banyak penyintas yang menangis sangat pilu, merasa menjadi orang yang paling menderita dan sangat terpuruk. Di saat seperti itu yang bisa aku lakukan hanya menjadi pendengar yang baik, memberikan motivasi ataupun penguatan/support pada mereka.

Ada cerita menarik saat aku mendampingi penyintas untuk sidang perceraian di Pengadilan Agama. Aku pernah diteror oleh keluarga suami penyintas. Bukan saja diteror tetapi aku juga dimarah – marahi oleh suami penyintas. Saat bertemu di tempat parkir aku masih di maki – maki dan diomeli oleh suami penyintas. Aku hanya menyampaikan kalau aku hanya sebagai teman saja tetapi tetap saja aku dimarahi oleh suami korban.  

Bermacam-macam cerita penyintas yang aku terima. Kadang ada cerita sedih dan aku ikut merasakan kesedihan jika cerita bahagia yang disampaikan aku pun ikut bahagia. Satu yang selalu saya ingat, menjadi pendamping tidak boleh terbawa perasaan dan selalu mengingat dalam hati untuk selalu kuat dan optimis untuk memandang masa depan. Motivasi itu juga yang kemudian aku sampaikan pada penyintas untuk tetap bersemangat dan menata masa depan yang lebih baik.  (Cerita: Atik Wahyuni, Narasi: Fitri Haryani email fitrijunanto@yahoo.com or fitrijunanto@gmail.com)

CATAHU SPEK-HAM 2020 “Data Bicara,Tegakkan Supremasi Hukum Undang Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga untuk Keadilan Korban”

Ilustrasi korban kekerasan

Kasus kekerasan terhadap perempuan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan jumlah serta keberagaman modusnya. Berdasarkan Catatan Tahunan (Catahu) 2019 Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap perempuan (Komnas Perempuan), diketahui ada 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama tahun 2018, naik 14% dari tahun sebelumnya sebanyak 348.466.

Setiap tahun Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia melakukan launching data kasus Kekerasan terhadap Perempuan yang diolah dari data pengaduan korban SPEK-HAM serta dari P2TP2A se Solo raya untuk melihat trend kasus. Launching data kasus tersebut kami upayakan untuk melakukan publikasi data kasus Kekerasan terhadap Perempuan yang kami tangani sebagai pembelajaran bagi masyarakat secara luas maupun bahan advokasi ke Pemerintah Daerah.

Trend kasus kekerasan yang terjadi adalah kekerasan dalam Rumah  Tangga  (KDRT). Jumlah kasus KDRT di Solo Raya itu antara lain, Sukoharjo ada 19 kasus, Sragen 6 kasus, Solo 36 kasus, Karanganyar 23 kasus, Boyolali 3 kasus, Klaten 10 kasus dan Wonogiri 11 kasus. Dari data tersebut bahwa kekerasan terhadap Perempuan dan Anak ini seperti fenomena  gunung es, karena yang terlihat hanya puncaknya banyak kasus yang terjadi tapi hanya sedikit yang berani melapor. Kasus kekerasan seksual menjadi benar-benar sulit diberantas karena terdapat berbagai kelemahan. Seperti lemahnya penegakan hukum terhadap kasus kekerasan seksual di Indonesia.

Ada beberapa rekomendasi yang kami berikan untuk perbaikan proses penanganan korban kekerasan berbasis gender diantaranya : Adanya dukungan pemberdayaan ekonomi berkelanjutan bagi korban dari pemerintah, Adanya terobosan hukum untuk korban kekerasan seksual dukungan untuk pengesahan RUU-PKS. Jangan sampai korban KS akan mengalami kekerasan lagi dalam proses yang harus mereka lalui, Supremasi hukum UUPKDRT untuk keadilan korban oleh APH dan pemerintah. Penegakkan yang lebih jauh, penegakan hukum yang lebih berkeadilan hukum.

Untuk data dan analisa lengkapnya bisa di download disini

Warga Tlogorandu Gelar Diskusi Gender dan Peran Gender

Suasana Diskusi Kelompok laki-laki

SPEK-HAM bersama Pemerintah Desa Tlogorandu dan Yayasan IPAS Indonesia dalam Program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) kembali menggelar Diskusi bersama kelompok laki-laki di Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten pada Sabtu 27/6. Diskusi yang dihadiri oleh 30 orang peserta ini dilaksanakan di rumah Bapak Sodikin, warga RT 01 RW 5 dengan mengangkat tema Gender dan Peran Gender.

Mereka nampak antusias mengikuti diskusi ini, Joko salah seorang peserta menyampaikan bahwa untuk menciptakan kesetaran gender bisa dimulai dari keluarga atau rumah tangga kita masing-masing. Misalnya dengan berbagi pekerjaan rumah dengan tidak perlu saling iri. “Saya itu dengan istri sudah biasa mencuci baju, mencuci piring bersama dan tidak ada merasa keberatan”, ungkap Joko. Dia menambahkan bahwa di dalam rumah tangga tidak boleh ada pihak yang mendominasi karena ini bisa membuat situasi di dalam keluarga menjadi tidak harmonis.

Hal senada disampaikan Tri Wahyono yang sudah terbiasa mengerjakan segala pekerjaan rumah, seperti mencuci baju, memasak, setrika, membersikan rumah dan sebagainya. Menurutnya tidak ada yang salah dalam pembagian pekerjaan rumah, yang penting kita melakukannya dengan ikhlas tanpa ada paksaan. 

Sementara itu Roudal, salah seorang peserta berpendapat bahwa berkomunikasi dengan pasangan kita itu sangat penting. Menurut dia dari komunikasi itu akan muncul kesepakatan-kesepakatan dalam berbagi peran di dalam rumah tangga, intinya harus saling mendukung satu dengan yang lainnya dan tentu saja saling menghormati dan bertanggungjawab atas apapun pekerjaan yang dilakukan.

Menanggapi hal tersebut Henrico Fajar dari SPEK-HAM, meminta agar praktik-praktik baik yg sudah dilakukan terkait dengan peran gender di lingkungan keluarga dapat disampaikan dan dipahamkan kepada bapak-bapak yg lainnya. Selain itu tentu saja bagi mereka yg akan menempuh jenjang pernikahan. Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa kita semua berharap ada kontribusi nyata dalam pencegahan kasus kekerasan, penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), penurunan kasus keguguran dan penurunan kasus-kasus kespro lainnya.

Sebagai informasi sejak tahun 2018 SPEK-HAM bersama Yayasan IPAS Indonesia telah menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi), sebanyak 250 orang perempuan muda dan 400 orang perempuan dewasa sudah menerima manfaat dari program ini. Kini di tahun 2020 program ini mengajak keterlibatan laki-laki, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta kelompok remaja dalam mendukung program ini. Henrico Fajar (Kesmas SPEK-HAM)

USAHA UMKM YANG DIKELOLA PEREMPUAN TETAP BERTAHAN DITENGAH PANDEMI COVID 19

Produksi karak non borax oleh KPKGS

Pandemi COVID-19 tidak hanya persoalan kesehatan, namun sudah berdampak pada persoalan sosial dan ekonomi masyarakat. Ditengah anjuran untuk social distancing, orang mulai mengurangi keluar rumah serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Tentu ini berdampak pada menurunnya pendapatan para pelaku usaha kecil yang berjualan di pinggir jalan, atau di event Car Free Day.

Tidak jauh berbeda, beberapa perempuan pemilik usaha kecil yang didampingi SPEK-HAM juga terdampak usahanya. Melihat kondisi tersebut, SPEK-HAM menyelenggarakan diskusi-diskusi on-line sebagai wadah sharing dan mencari solusi usaha yang dibutuhkan pada masa pandemic covid19 saat ini. 

Jamu Seduh

Ibu Ratna dan Ibu Sulastri anggota Kelompok Perempuan Kampung Sewu (KPKS) Kelurahan Sewu Surakarta cukup kreatif, mereka mampu membaca situasi pasar dengan menjual berbagai makanan dan minuman yang dibutuhkan masyarakat. Saat orang takut keluar membeli makanan, mereka menyediakan aneka makanan dan minuman yang sudah dikemas dengan rapi dengan system pesan antar secara on line. Ada pula yang membidik pasar masyarakat yang tengah ekstra menjaga imunitas tubuh, yaitu dengan beralih usaha menjual aneka jamu-jamuan siap seduh. Seperti yang dilakukan Ibu Sulistyorini anggota KPKS Kelurahan Sewu.

Berbeda dengan Kelompok Perempuan Kelurahan Gilingan Srikandi (KPKGS), pada awal-awal pandemic covid19 usaha karak non borax sempat terhenti karena khawatir produk tidak laku. Setelah ada sosialisasi dari SPEK-HAM tentang standar produksi yang aman seperti menggunakan masker dan sarung tangan, maka perlahan usaha karak non borax kembali bangkit. Apalagi saat bulan puasa untuk menghadapi Hari Raya Idul Fitri banyak pesanan lewat WA, bahkan penjualan sampai diluar kota maupun luar jawa. Setiap minggunya mereka mampu memperoduksi tidak kurang dari 10-20 kg/ minggu.  Menangkap peluang usaha baru dan pemasaran on line menjadi strategi bertahannya usaha kecil di tengah situasi saat ini. Harapannya pandemic covid19 segera berakhir dan usaha kecil yang dikelola perempuan kembali bangkit. Pakdhe Padmin -CO Divisi SL

Tingkatkan Capaian Program Kespro, SPEK-HAM Gandeng MUI Juwiring.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan pertemuan rutin Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Aula Kantor Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Juwiring pada Rabu 15/1. Hadir dalam pertemuan ini Muspika dan pengurus beserta anggota MUI Kecamatan Juwiring yang merupakan perwakilan dari NU, Muhammadiyah, LDII, MTA, IPHI, Asyiyah dan beberapa elemen organisasi keagamaan lainnya.

Paparan Direktur SPEK-HAM terkait angka kasus kespro di Klaten

Dalam kesempatan ini Direktur SPEK-HAM Rahayu Purwaningsih menyampaikan data kasus Kesehatan Reproduksi (Kespro) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten yang masih tinggi. Kasus tersebut antara lain Angka Kematian Ibu pada tahun 2017 yang mencapai 18 Kasus dan merupakan peringkat ke 7 di Jawa Tengah. Kehamilan pada remaja, di tahun 2016 mencapai 125 kasus, tahun 2017 naik menjadi 295 dan tahun 2018 sampai bulan September mencapai 158 kasus.

Suasana pertemuan MUI Kecamatan Juwiring, Klaten

Disampaikan oleh Ayu bahwa angka remaja yang bersalin di tahun 2016 mencapai 77 orang, tahun 2017 naik menjadi 136 dan tahun 2018 mencapai 102 orang. ”Kehamilan pada remaja disebabkan karena faktor informasi Kespro yang tidak berkualitas dan banyaknya konten pornografi di media sosial,” jelas Ayu. Pihaknya berharap ada dukungan nyata dari para pihak terkait untuk menyukseskan program Kesehatan Reproduksi.

Sementara itu masih menurut Ayu, angka kasus kehamilan remaja di Kecamatan Juwiring tahun 2019 mencapai 8 kasus. Hal ini berbanding lurus dengan angka Dispensasi Perkawinan di tahun 2019 yang mencapai 22 kasus. Kasus keguguran pada ibu hamil di Kecamatan Juwiring pada tahun 2018 ada 20 kasus. Angka ini mengalami kenaikan sebanyak 24 kasus di tahun 2019.

Menanggapi hal tersebut, Muslim Fadhil Penasehat MUI Kecamatan Juwiring menyampaikan pentingnya kampanye dan edukasi pada kelompok perempuan dan remaja agar mereka paham tentang dampak dari seks bebas, pernikahan dini dan kehamilan pada remaja. ”Pamflet atau selebaran menjadi kebutuhan bagi kelompok perempuan dan remaja, harapannya mereka membaca dan paham informasi Kesehatan Reproduksi”, ungkap Fadhil. Hal senada disampaikan Dayadi selaku Ketua MUI Kecamatan Juwiring yang berkomitmen  mendukung dan mengajak pengurus MUI untuk membantu program ini dengan mengedukasi masyarakat di wilayahnya masing-masing.   

Sebagai informasi pada tahun 2018 SPEK-HAM bersama dengan Yayasan Inisiatif Perubahan Akses menuju Sehat (IPAS) Indonesia telah menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) di Kecamatan Juwiring, Bayat dan Klaten Tengah. 400 perempuan dewasa dan 250 perempuan remaja telah menerima manfaat dari program ini. Salah satu fokus kegiatannya adalah layanan Asuhan Paska Keguguran (APK). Henrico Fajar/Divisi Kesmas SPEK-HAM