Search for:

Giatkan Kembali FKD

Fasilitator memandu diskusi FKD

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Pertemuan Kelembagaan Kesehatan Tingkat Desa pada Selasa 15/9 di Balai Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Kegiatan yang terselenggara atas kerjasama antara SPEK-HAM, Yayasan IPAS Indonesia dan Pemerintah Desa Tlogorandu ini dihadiri oleh Perangkat Desa, Bidan Desa, BPD, Kader PKK, Kader Kesehatan, Kader Posyandu  dan Karangtaruna.

Forum Kesehatan Desa (FKD) yang merupakan wadah partisipasi bagi masyarakat dalam mengembangkan pembangunan kesehatan di tingkat desa. Dalam pertemuan ini sejumlah kader dan bidan desa mengagas agar FKD yang pernah terbentuk di desa ini giatkan kembali. Menurut Mudidati Ikrimah, Bidan Desa setempat menyatakan FKD bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Suasana diskusi kelompok di FKD

Dia menambahkan fungi FKD ialah mengembangkan sistem kesehatan desa yang meliputi  kegiatan gotong royong masyarakat, upaya kesehatan, pengamatan dan pemantauan kesehatan (surveling), dan pembiayan kesehatan, juga sebagai wadah untuk merumuskan dan memecahkan masalah kesehatan. Dasar hukum FKD tertuang dalam Kepmenkes RI No.1529/Menkes/SK/X/2010, tahun 2010 tentang Pedoman Umum Pengembangan Desa/kelurahan Siaga Aktif.

Sementara itu PJ Lurah Tlogorandu, MS Yulianto menyatakan mendukung upaya-upaya digiatkannya kembali FKD, namun pihaknya meminta agar organisasi ini nantinya tidak hanya berjalan ditempat melainkan harus ada progress ke depannya untuk masyarakat. “Pada dasarnya saya mendukung kegiatan FKD, tetapi ya jangan dibentuk lalu ada pengurusnya selesai, sekali lagi saya mendorong adanya peran-peran konkret di tengah-tengah masyarakat”, ungkap Yuli.   Pertemuan yang bertujuan unutk membangun dukungan dari lembaga-lembaga kesehatan tingkat desa terhadap implementasi program Peningkatan Kesehatan Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) ini berhasil memetakan beberapa persoalan kesehatan di desa Tlogorandu, diantaranya masih dijumpai kasus keguguran sejumlah 5 kasus, ibu hami resiko tinggi 16 kasus (seperti: KEK, riwayat operasi Caesar, usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun, hipertensi, dll). Henrico Fajar (Divisi Kesmas SPEK-HAM)

Remaja Juwiring Gelar Diskusi Kespro Via Zoom

flyer diskusi online Kespro Remaja

Sebagai salah satu upaya untuk mengedukasi remaja, SPEK-HAM bersama dengan Yayasan IPAS dan Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten menyelenggarakan diskusi on line menggunakan media zoom pada Selasa 5/5. Diskusi yang diikuti oleh 20 orang peserta remaja dari Juwiring ini, mengangkat tema: Ada Apa Dengan Kespro Remaja? Dan menghadirkan narasumber secara virtual Siti Katrimah, Amd. Keb dari Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten.

Dalam paparannya Siti Katrimah menyampaikan pentingnya memahami Kesehatan Reproduksi Remaja secara benar, salah satunya dengan memperhatikan tahapan masa pubertas. Ada perubahan kerja hormon, perubahan fisik pada laki-laki dan perempuan serta perubahan psikologis yang harus dipahami setiap remaja.

“Mestinya remaja harus paham ya, kalau perempuan ditandai dengan menstruasi, sementara laki-laki mimpi basah dan bila ada keluhan organ reproduksi atau siklus menstruasi yang tidak normal harus periksa ke dokter,” ungkap Katrimah. Dia mengajak kepada remaja untuk tidak menganggap tabu saat mendiskusikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas, dengan demikian informasi bisa disampaikan secara utuh dan benar.

Diskusi yang dipandu oleh Fitri Haryani dari SPEK-HAM ini, mengajak peserta untuk berani berbagi informasi maupun menyampaikan pertanyaan kepada narasumber. Salah seorang peserta Tari Sekar menyampaikan, tentang penggunaan sabun khusus untuk organ reproduksi perempuan setiap hari. Peserta lain Chelsea Ardya Prameswari menyampaikan memimum jamu kunyit asam saat menstruasi.

Diskusi online via Zoom Meeting

Menanggapi hal tersebut, Katrimah menyampaikan pada saat menstruasi boleh menggunakan sabun untuk membersihkan sisa kotoran seperti lendir, tetapi tidak boleh terlalu sering. Menurutnya bila terlalu sering justru akan membunuh bakteri-bakteri baik yang ada vagina, sehingga bisa berdampak buruk pada kesehatan reproduksi perempuan. Beberapa manfaat meminum jamu kunyit asam menurut, antara lain untuk memperkuat daya tahan tubuh, mengatasi rasa nyeri pada perut dan memperlancar siklus haid.

Lebih lanjut Katrimah menegaskan agar remaja mengkonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang serta menerapkan gaya hidup yang sehat dengan olahraga. Selain itu agar organ reproduksi perempuan tidak mengalamj persoalan, mereka harus menjaga kebersihan organ reproduksi dengan melakukan cebok secara benar setiap selesai buang air kecil. Sebagai informasi sejak tahun 2018 Yayasan IPAS bersama Dinas Kesehatan Klaten dan SPEK-HAM telah menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) di Kecamatan Juwiring, Klaten Tengah dan Bayat. Fokus di tahun ini, selain melibatkan perempuan remaja, juga melibatkan kelompok laki-laki, tokoh agama dan masyarakat. Sebanyak 400 perempuan dewasa dan 250 perempuan remaja telah menerima manfaat dari program ini. Henrico Fajar/Divisi Kesmas/SPEK-HAM.  

Gunakan media alternatif ditengah Covid-19, Jagongan online tentang Kespro di dua kecamatan di Klaten libatkan kader kesehatan dan remaja.

Covid-19 atau lebih dikenal dengan virus corona menjadi pembicaraan yang istimewa saat ini, paska di temukannya pasien positif meninggal di kota Surakarta yang akhirnya dikeluarkannya kebijakan-kebijakan di semua Kabupaten sekitar. Kabupaten Klaten merupakan wilayah dampingan SPEK-HAM yang mengeluarkan kebijakan yang sangat cepat mengikuti kebijakan yang dibuat kota Surakarta, diantaranya meliburkan sekolah dari tingkat PAUD, TK, SMP dan SMA serta menunda semua kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan masa, baik kegiatan yang dilakukan bupati maupun kegiatan-kegiatan organisasi tingkat desa. Kebijakan pemerintah tentunya juga berimbas terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan SPEK-HAM bersama komunitas di Kabupaten Klaten, di Kecamatan Juwiring, Bayat dan Klaten Tengah dalam program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) bersama dengan IPAS Indonesia.

SPEK-HAM mulai menggunakan alternatif beberapa media online untuk terus melakukan edukasi seputar kesehatan reproduksi pada kelompok dampingan program PEKERTi di Klaten, ditengah mewabahnya COVID-19 dan kebijakan Pemerintah Kabupaten Klaten yang membatasi/menunda kegiatan yang melibatkan massa. Atas inisiasi teman-teman CO , dorongan dan keinginan komunitas untuk bertemu, maka kami mewadahi keinginan tersebut dengan mebuat ruang-ruang diskusi melalui media online di WA group, dimana didalam diskusi tersebut terdapat moderator sebagai pengatur jalannya diskusi dan juga ada Narasumber, yang melibatkan SPEK-HAM maupun dari OPD terkait. Kecamatan Klaten Tengah mengawali kegiatan diskusi online dengan tema “ Kesehatan Reproduksi dan Pemihakan Desa/kelurahan “ dengan narasumber Mbak. Rahayu Purwaningsih dari SPEK-HAM dan Moderator mbak.Liza, diksusi online ini diikuti oleh 25 kader kesehatan perempuan dewasa Kecamata Klaten Tengah. Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dalam diskusi pada Jumat Malam, 20 Maret 2020, 19.00 s/d 20.00 : Kelurahan / desa bisa didorong untuk melakukan pemihakan untuk posyandu remaja melalui program dan dana desa/kelurahan, Posyandu remaja bisa menjadi sarana untuk melakukan edukasi bagi remaja dan kita sebagai pendamping harus kreatif dengan penggunaan metode pembelajaran, banyaknya AKI di kelompok ibu remaja karena keguguran, anemia dan kekurangan gizi, dikarenakan minimnya edukasi, angka kehamilan remaja yang tinggi menjadi keprihatinan bersama.

Diskusi oline yang ke dua dilakukan di Kecamatan Bayat bersama dengan kelompok remaja perempuan dengan pokok pembahasan tentang “ Kekerasan Dalam Pacaran “, Moderator kegiatan ini adalah Ayun dan Elizabet Yulianti sebagai narasumber . Banyak sekali muncul cerita dari diskusi ini diantaranya bentuk kekerasan, baik kekerasan verbal maupun kekerasan fisik. Selama hampir satu jam berdiskusi, group remaja perempuan bayat sudah memahami seluk beluk kesehatan reproduksi terkait dengan hubungan yang sehat adalah hubungan yang saling memberi dampak positif untuk kedua belah pihak, tidak boleh ada kekerasan, ancaman, ataupun bentuk apa pun yg bersifat menyakiti. Kekerasan dalam Pacaran ada 3 : kekerasan fisik : memukul, menampar, menendang. kekerasan verbal/ berupa perkataan/ yang diucapkan:berkata kasar, membentak, ancaman dan bullying. Kekerasan psikis: dibohongi, dipaksa, diancam, ditakut-takuti, di posesif in. Kegiatan ini merupakan rangkaian awal paska Surat Edaran Bupati Klaten tentang pencegahan COVID-19 di keluarkan. Danang Wijayanto – Manager Divisi Kesmas

Karang Taruna Desa Blumbang Gelar Diskusi Sex Education

Suasana diskusi Sex Education di Balai Desa Blumbang

Karang Taruna Desa Blumbang menggelar diskusi dengan tema Sex Education pada Sabtu malam, 1/2 di Balai Desa Blumbang, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali. Kegiatan dihadiri 45 orang anggota Karang Taruna, mereka nampak antusias mengikuti kegiatan ini.

Henrico Fajar dari SPEK-HAM menjadi Narasumber dalam diskusi ini menyampaikan pentingnya Pendidikan Seksualitas sejak usia dini. Ia menyampaikan bila remaja mengetahui dan memahami informasi tentang seksualitas secara benar, maka harapanya bisa menekan angka kasus kekerasan seksual, kehamilan pada remaja, kehamilan tidak diinginkan (KTD) dan pernikahan anak.

“Berhenti menganggap Pendidikan Seksualitas sebagai hal yang tabu, Seksualitas adalah ilmu pengetahuan yang wajib dipahami semua orang tanpa terkecuali”, ungkap Fajar. Dia menambahkan bila semua orang paham tentang seksualitas maka laki-laki dan perempuan akan saling menghormati dan menghargai serta tidak coba-coba melakukan hubungan seksualitas sebelum menikah.

Beberapa orang peserta menyampaikan pengalaman pertama kali saat menstruasi dan mimpi basah. Gita Lestari misalnya, merasa terkejut dan kaget saat mengalami menstruasi untuk pertama kalinya. ”Jujur saya kaget dan terkejut waktu itu, saya pusing, lemas dan rasanya pengen marah-marah saja”, ungkap Gita. Dia mengaku lebih nyaman bercerita dengan ibu saat mengalami menstruasi pertama pada saat itu.

Sementara itu Kresno Pambudi mengaku senang saat mengalami mimpi basah pertama kali. “Rasanya senang dan bangga pada diri sendiri serta merasa lega karena sudah menginjak masa remaja”, terang Kresno. Peristiwa mimpi basah untuk pertama kali ini menjadi ngobrolan bersama dengan teman-teman sebayanya waktu itu.

Menanggapi hal itu Fajar menyampaikan menstruasi dan mimpi basah adalah hal yang wajar yang dialami banyak remaja dan merupakan salah satu tanda orang memasuki masa pubertas. Perempuan sudah menstruasi berarti berpotensi besar untuk dibuahi atau hamil, sementara laki-laki yang sudah mimpi basah berarti dia berpotensi besar bisa membuahi atau menghamili.

Berwafoto bersama peserta diskusi Seks Education

Oleh karena itu penting untuk memahami masa pubertas, salah satunya dengan membangun  relasi yang dinamis dan seimbang dengan lawan jenis (laki-laki dan perempuan) yang sesuai dengan batasan-batasan atau norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat. Tentu saja norma-norma itu yang tidak membelenggu salah satu pihak, baik laki-laki maupun perempuan.   Sebagai informasi kegiatan Diskusi Sex Education ini terselenggara atas kerjasama SPEK-HAM, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAIN Salatiga, Pemerintah Desa dan Karang Taruna Desa Blumbang. Henrico Fajar K.W/Divisi Kesmas SPEK-HAM

Tingkatkan Capaian Program, SPEK-HAM Beraudiensi Dengan Dinsos PPPA dan KB Klaten

Audiensi diselenggarakan pada Jumat 3/1 di kantor Dinsos PPPA dan KB atau Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Klaten. Rombongan di terima langsung oleh Veronika Retno, Kepala Bidang Dalduk dan KB di ruang kerjanya. Dalam kesempatan ini Direktur SPEK-HAM Rahayu Purwaningsih menyampaikan program yang telah dilakukan di Kabupaten Klaten terkait dengan program PEKERTi (Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi).

Audiensi dengan Dinsos PPA dan KB

Ayu menjelaskan beberapa kegiatan yang telah dilakukan, yaitu Pelatihan Kader Perempuan Dewasa dan Perempuan Muda di Kecamatan Juwirng, Klaten Tengah dan Bayat. “Kader perempuan di 3 Kecamatan tersebut telah dibekali materi-materi terkait dengan Kesehatan Reproduski untuk disampaikan ke kelompok-kelompok perempuan yang lainnya”, jelas Ayu. Ayu menambahkan 400 perempuan dewasa dan 250 perempuan remaja telah menerima manfaat dari program ini.

Antonius Danang Wijayanto selaku Manajer Program PEKERTi SPEK-HAM menyampaikan pentingnya kolaborasi dengan PLKB (Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana) dan pelibatan PIK R atau Pusat Informasi Konseling Remaja dalam implementasi program ini. “Kami sangat berharap PLKB bisa berkolaborasi dengan kader-kader yang telah terbentuk, sementara itu PIK R bisa berkolaborasi dengan kelompok remaja”, jelas Danang.

Bersama Kabid Dalduk dan KB Klaten

Menanggapi hal tersebut Veronika Retno, Kabid Dalduk dan KB menerima dan mempersilakan SPEK-HAM untuk mengajak PLKB dan PIK R yang berada di tingkat Kecamatan yang telah dibentuk untuk berkolaborasi dalam program ini. “Kami ada program Kampung KB, saya kira ini juga bisa menjadi peluang untuk diajak kerjasama karena menurut saya ini bisa nyambung”, ungkap Retno. Dia sangat berharap dengan berjalannya program ini bisa meningkatkan angka kepesertaan KB dan peningkatan derajat kesehatan perempuan. Henrico Fajar/Divisi Kesmas SPEK-HAM.        

Mendesak Diberikan Pendidikan Seksualitas Komprehensif Bagi Remaja

Komunitas Perempuan Suroteleng

Pendidikan seksualitas komprehensif mendesak diberikan untuk remaja. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Diskusi Komunitas Perempuan Suroteleng yang digelar di rumah Rohmini, Buluwetan, Desa Suroteleng, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali pada Rabu, 20/11. Menurut Nurwati Choiriyah salah seorang kader kesehatan Desa Suroteleng, remaja harus diberikan informasi yang benar tentang seksualitas, apalagi menurutnya di zaman kini banyak remaja yang salah dalam pergaulan, mereka cenderung bebas tanpa aturan. Akibatnya kasus-kasus kehamilan yang tidak diinginkan dan pernikahan usia anak semakin merajalela.

Hal senada disampaikan Tuminah, remaja harus diberikan informasi tentang kesehatan reproduksi. Menurutnya kenakalan remaja seperti penyalahgunaan narkoba, pacaran yang tidak sehat dan seks di luar nikah terjadi karena masih banyak remaja yang belum paham tentang dampak dari narkoba dan seks di luar nikah tersebut.

Sementara itu pada sisi lain masih banyak orang tua yang belum paham tentang seksual dan seksualitas. Orang tua tidak berani berbicara soal seks bersama anak-anak mereka karena beranggapan bahwa seks adalah tabu dan tidak pantas didiskusikan bersama anak-anak mereka. Henrico Fajar, pendamping dari SPEK-HAM mengajak ibu-ibu untuk tidak lagi melihat seksual sebagai hal yang tabu.

“Kita harus mulai merubah pikiran kita, bahwa seksual itu berkaitan dengan jenis kelamin, sedangkan seksualitas menyangkut berbagai dimensi yang sangat luas, yaitu dimensi biologis, sosial, psikologis, dan budaya,”ungkap Henrico. Lebih lanjut dia menerangkan bahwa Seksualitas dari dimensi biologis berkaitan dengan organ reproduksi dan alat kelamin, termasuk bagaimana menjaga kesehatan dan memfungsikan secara optimal organ reproduksi.

Sedangkan Seksualitas dari dimensi psikologis erat kaitannya dengan bagaimana menjalankan fungsi sebagai makhluk seksual, identitas peran atau jenis, serta bagaimana dinamika aspek-aspek psikologis (kognisi, emosi, motivasi, perilaku) terhadap seksualitas itu sendiri.

Pada dimensi sosial, seksualitas dilihat pada bagaimana seksualitas muncul dalam hubungan antar manusia, bagaimana pengaruh lingkungan dalam membentuk pandangan tentang seksualitas yang akhirnya membentuk perilaku seksual. Dimensi kultural menunjukkan perilaku seks menjadi bagian dari budaya yang ada di masyarakat.

Sebagai informasi data dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali menjelaskan angka kasus dispensasi perkawinan mengalami penurunan walupun dari tahun mengalami penurunan. Di tahun 2017 ada 5 kasus, 2018 ada 4 kasus 2019 sampai bulan Agustus ada 2 kasus.

Ikhsannudin salah seorang pegawai di KUA Kecamatan Selo, menjelaskan pernikahan usia anak di Kecamatan Selo terjadi bukan karena hamil duluan, tetapi memang budaya setempat yang membolehkan usia 16 tahun atau anak tamat SMP atau SMA untuk menikah. “Jadi berbeda dengan di tempat lain, menikah dini hampir selalu disebabkan adanya kehamilan yang tidak diinginkan”, ungkap Ikhsan. Walaupun angka pernikahan anak mengalami penurunan namun pihaknya mengaku tetap prihatin dan berharap agar di tahun-tahun mendatang tidak ada lagi pernikahan dini.

Henrico Fajar memfasilitasi diskusi

Sementara itu data perceraian di Kecamatan Selo juga mengalami penurunan. Di tahun 2017 cerai gugat ada 20, cerai talak 13 kasus. Tahun 2018 cerai gugat ada 20, cerai talak ada 4 kasus, tahun 2019 sampai agustus cerai gugat ada 5 dan cerai talak ada 5 kasus. Menurut Suyono salah seorang penghulu di KUA Kecamatan Selo penyebab perceraian didominasi adanya orang ke 3 dan penelantaran ekonomi. Henrico Fajar – Divisi Kesehatan Masyarakat SPEK-HAM  

Kader Kecamatan Klaten Tengah Berbagi Pengalaman

Dalam rangka menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Terintegrasi (PEKERti) maka   pada tanggal 24 Januari 2019 diadakan pertemuan rutin kader di Kelurahan Klaten dan Desa Buntalan, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten.  Pertemuan diadakan oleh SPEK-HAM dengan dukungan oleh Yayasan Intervensi Pendidikan Akses menuju Sehat (IPAS) dan dihadiri oleh 17 orang.

Elizabeth Yulianti Raharjo dari SPEK-HAM memberikan fasilitasi saat diskusi

Pada pertemuan regular tersebut para kader yang merupakan perwakilan dari 3 Desa (Jomboran, Gumulan dan Semangkak) dan 6 Kelurahan (Mojayan, Tonggalan, Kabupaten, Bareng, Buntalan, Klaten) melakukan berbagi pengalaman terkait dengan ditemukannya kasus-kasus Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) yang dialami oleh perempuan dan perempuan muda di masing-masing Desa/Kelurahan. Dan apa yang sudah dilakukan para kader terkait dengan pemenuhan hak reproduksinya.  

Suasana diskusi

Setelah sesi berbagi pengalaman kemudian fasilitator dari SPEK-HAM memaparkan bagaimana proses penanganannya secara hukum jika ditemukannya KTD akibat dari pemerkosaan dan juga hak-hak apa saja yang perlu dipenuhi termasuk kesehatan reproduksi. Hasil dari diskusi adalah kesepakatan dari peserta kader untuk mendata dan menilisik kasus KTD (misal : akibat pemerkosaan, gagal KB, risiko tinggi, dll) yang ditemui di masing-masing desa/kelurahan yang kemudian hasilnya akan dijadikan proses pembelajaran bersama untuk dicari solusi pencegahan dan penanganannya. (Liza)

IVA Tes Tidak Sakit, Hasilnya Cepat Diketahui


Fikri, salah seorang Kader Kesehatan Blumbang memandu diskusi dalam kegiatan pertemuan rutin

Hal tersebut disampaikan Ida Nursanti saat memberikan informasi sekaligus ajakan kepada ibu-ibu kader kesehatan Desa Blumbang pada acara pertemuan rutin kader kesehatan, Sabtu (16/2) di Balai Desa Blumbang, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali.

Menurutnya sudah saatnya perempuan harus berani melakukan IVA tes demi kepastian kesehatan reproduksinya. “Pemeriksaan IVA tes itu tidak sakit dan hasilnya cepat diketahui,”ungkap Ida. Dia menambahkan hasil pemeriksaan IVA tes bersifat rahasia dan yang mengetahui hanya pasien dan dokter yang memeriksa. Jadi perempuan tidak perlu merasa malu.

Sementara itu Supriatun, Bidan Desa Blumbang menyampaikan informasi tentang kesiapan layanan IVA tes di Puskesmas Klego 2. Menurutnya saat ini sudah ada tim terlatih yang siap melayani. “Sudah ada tim tersendiri yang sudah terlatih melayani IVA tes. Silakan nanti disiapkan pesertanya 15-20 orang. Setelah itu bisa menghubungi pihak Puskesmas supaya bisa disiapkan tim beserta perlengkapannya,” ungkap Rohma.  

Sebagai informasi, kanker serviks merupakan pembunuh nomor satu perempuan Indonesia. Kanker serviks merupakan kanker yang muncul pada leher rahim perempuan. Leher rahim sendiri berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim dari vagina. World Health Organization (WHO)sepertidikutip https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170827161551-255-237610/jumlah-kasus-kanker-serviks-indonesia-tertinggi-ke-2-di-dunia menyebutkan setiap tahun 21 ribu kasus kanker serviks (leher rahim) terjadi di Indonesia sehingga negara kita menempati nomor dua dalam jumlah kasus tertinggi di dunia.

Oleh karena itu upaya preventif sangat diperlukan. IVA tes menjadi salah satu jawaban dari upaya preventif yang murah, mudah dan cepat. IVA tes merupakan kepanjangan dari Inspeksi Visual dengan Asam Asetat yang merupakan cara sederhana mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin. IVA tes bertujuan untuk mengurangi morbilitas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan, selain itu untuk mengetahui kelainan yang terjadi pada leher rahim. Henrico Fajar K.W (Divisi Kesehatan Masyarakat SPEK-HAM)