Search for:

Mengulik Pemberdayaan di Desa Cluntang, Musuk, Boyolali

Cluntang merupakan salah satu Kelurahan di Kecamatan Musuk, Boyolali dimana lokasinya berada di lereng Gunung Merapi yang membuat iklim di Cluntang sejuk dan dingin. Pemandangan Gunung Merapi yang bersembunyi di balik Gunung Bibi menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk mengunjunginya. Peluang inilah yang diambil oleh salah satu warga Cluntang untuk membuat sebuah objek wisata Tanjakan Cinta, begitulah orang sekitar  menyebutnya. Wisata yang berdiri sejak 2019 ini selalu ramai dikunjungi, sampai akhirnya pandemi menyerang sehingga mau tidak mau tempat wisata di Cluntang harus tutup.

Kelurahan yang berlokasi di lereng Gunung Merapi ini menjadikan mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Berbagai macam tanaman dan sayuran tumbuh subur, seperti kubis, cabai, bawang merah, kentang, tomat, bunga mawar, dan tembakau. Sampai sekarang produksi tanaman dan sayuran dari Cluntang terus berkembang, hal tersebut tidak lepas dari peran SPEK HAM dan Baznas Boyolali dalam program Zakat Community Development sebagai pendamping dengan anggota 67 orang. Salah satu produk dampingan SPEK HAM adalah produksi olahan bunga mawar, yang sebelumnya hanya dijual rancangan menjadi olahan berupa teh mawar, keripik mawar, pilus, dan sirup. Masyarakat yang memproduksi olahan mawar tergabung dalam Kelompok Putri Mawar, diinisiasi oleh SPEK HAM tahun 2016. Kelompok Putri Mawar ini telah mempunyai alat produksi sendiri, seperti cabinet dryer sebagai pengering, mesin spinner untuk penghilang minyak, timbangan, alat press manual kantong teh, dan alat pendukung lainnya.

Kondisi lingkungan yang mendukung akan pertumbuhan bunga mawar membuat hampir setiap rumah memiliki tanaman mawar. Jenis tanaman ini dapat dipanen setiap hari, sehingga produksi mawarnya pun sangat melimpah. Teh mawar dan keripik mawar merupakan produk yang paling laku di pasaran, olahan mawar ini telah dipasarkan melalui toko oleh-oleh, online, dan melalui mulut ke mulut. Produk mawar yang telah mempunyai sertifikat halal dan izin PIRT ini, 1 kotak teh celup mawar 20 gr seharga 15.000, sedangkan kripik mawar seharga 10.000. Selain produksi olahan mawar, Cluntang juga kaya akan produksi bawang merah. Berkah Tani merupakan kelompok petani bawang merah di Cluntang yang berdiri tahun 2017 dengan anggota 21 orang. Penanaman bawang merah diminimalisirkan penggunaan pupuk kimia agar bersifat ramah lingkungan.  Namun dengan begitu, ketika sampai di pasar bawang merah organik dan non organik masih dijadikan satu, sehingga perolehan harga belum terdapat perbedaan yang signifikan. SPEK-HAM bekerja sama dengan Baznas Boyolali juga memberikan beberapa ekor kambing kepada 5 warga Cluntang, harapannya dari ternak kambing tersebut dapat meningkatkan produktivitas masyarakat. (Hanifah Aufia R Mahasiswa UGM_Magang SPEK-HAM, September 2021)

Siaran SPEKHAM bersama Radio Immanuel Hadirkan Perempuan Kader UMKM

siaran Radio Immanuel

Awalnya SPEKHAM pada tahun 2014 mencari wilayah rentan seperti Kelurahan Sewu yang setiap tahun selalu dilanda banjir dan yang didampingi adalah kelompok perempuan. Lalu ada lagi Kelurahan Gilingan, yang kebanyakan warga rumahnya petak-petak, serta banyak kos-kosan. Soepadmin atau biasa dipanggil Pakde ke sana menyampaikan tujuan SPEKHAM untuk pemetaan, kemudian ada temuan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), serta temuan banyak perempuan sebagai kepala keluarga. Demikian dituturkan oleh Pakde dalam siaran bersama Radio Immanuel yang dipandu oleh Wempie, Rabu (6/11). Siaran juga menghadirkan perempuan kader, Sulistyarini dari Kelompok Perempuan Kampung Sewu (KPKS) serta Sulis dari Kelompok Perempuan Kelurahan Gilingan Srikandi (KPKGS)

Awal membuat kelompok pada waktu itu yakni pada pertemuan PKK. SPEKHAM lalu masuk dan memaparkan tujuannya untuk peningkatan ekonomi. SPEKHAM memberi masukan kalau akan membuat kelompok perempuan di Sewu kemudian disebut KPKS. Ada pertemuan dan dibentuk  kepengurusan lalu menyuratkan apa saja cita-cita dan harapan kelompok, bagaimana jika membuat pra koperasi dengan syarat adanya simpanan pokok, wajib dan suka rela. Ini memang diutamakan kelompok perempuan kepala keluarga dan menurut pemetaan ada banyak sekali perempuan menjadi kepala keluarga di 19 RW.

SPEKHAM lalu memetakan di 19 RW itu, siapa saja yang memiliki usaha rumahan dan apa yang dibutuhkan. Bersama dengan pemkot melalui dinas koperasi dan UMKM lalu memberikan bantuan alat-alat seperti kamera, laptop dan lain-lain. Kalau untuk produk apem misalnya, kebutuhannya apa. Nah di tahun 2018 di Kelurahan Sewu mendapat pendampingan tentang produk apem. Ada sembilan kelompok apem. Tiap pertemuan SPEKHAM selalu datang. Di Sewu pertemuan tiap tanggal 19.

Karena di Kelurahan Gilingan ada banyak kos-kosan, berarti risiko tinggi (risti). Lalu beberapa Kepala Keluarga (KK) ditanyakan kepada ketua RT, daerah rentan mana yakni di pinggir sungai dan yang palking siap rt 02 rw 05. Ibu Sulis mendampingi. Kemudian SPEKHAM melakukan pemetaan kembali, terbentuk bank sampah. Kemudian mereka membuat komunitas ini Kelompok Perempuan Kelurahan Gilingan Srikandi. Selain dapat bantuan dari pemerintah, selain karak tanpa borax yakni sembako. Akhirnya para perajin dikumpulkan, Kelompok Srikandi ini juga dapat bantan bank sampah. Dan saat musrenbangkel diusulkan untuk mendapat anggaran pra koperasi serta bank sampah dapat juara. “Ini juga dapat bantuak dana DKP, kita bersyukur, KPKS dan KPKGS diakui oleh pemkot. Harus sabar, dan mengetahui kebutuhan masyarakat,”terang Pakde.

Tantangan bagi KPKS adalah belum punya PIRT dan harapan Sulistyarini adalah semoga dipermudah. Pemasaran lewat online juga telah dilakukan, meski PIRT belum tercantum. KPKS bikin apem sedianya untuk gerebeg sewu, lalu ada pesanan dari even-even lainnya. Dukanya, saat ini pemasaran masih mengalami kesulitan, kue apem mayoritas tidak pada suka, yang suka banyak orang Jawa. Untuk inovasi produk lalu apem dikasih toping cokelat, keju. Anak-anak suka. Kue apem susah di pasar, karena disepelekan, ada pesaing yang lebih enak.

Sulis dari KPKS berharap ingin mendapat pelatihan dan sosialisasi dari dinas menyangkut UMKM agar anggota KPKS bisa meningkatkan produktivitas. “Kami juga ditawari radio gapura klewer untuk pemasaran,”ujar Sulis. (red)

Olahan Pangan Lokal Meningkatkan Ekonomi Perempuan Desa Balerante

Pelatihan olah pangan berbahan dasar susu bagi kelompok perempuan Mawar, Balerante.

Pagi ini, Rabu 20 Maret 2019 puluhan anggota kelompok perempuan Mawar Desa Balerante dan beberapa mahasiswa berkumpul di Rumah Darsi, salah seorang anggota kelompok. Mereka sibuk menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan untuk praktik membuat aneka makanan dari olahan susu sapi.

Balerante dikenal sebagai desa penghasil susu sapi. Setiap hari mampu menghasilkan ribuan liter susu sapi segar, karena 1 ekor sapi saja mampu menghasilkan 20-40 liter susu setiap harinya. Susu sapi segar ini disetorkan ke Koperasi setiap harinya dengan harga Rp. 6000/liter.

Sebagai upaya meningkatkan nilai ekonomis dan memberikan tambahan pendapatan pada peternak khususnya peternak perempuan, Fakultas Teknologi dan Industri Pangan Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) melaksanakan pelatihan olahan pangan lokal berbahan baku susu sapi. Hari ini anggota kelompok perempuan Mawar dilatih mengolah susu sapi menjadi yogurt, es krim dan kerupuk susu. “Bahan-bahan dan cara membuatnya mudah ya, ibu-ibu ?”, tanya Bu Yannie Asrie Widanti, STP, M.Gizi selaku trainer dalam pelatihan ini.

Kegiatan ini merupakan bentuk kerjasama strategis antara SPEK-HAM dan UNISRI dalam program pemberdayaan masyarakat khususnya perempuan melalui pengembangan sumber daya lokal. Setelah pelatihan, diharapkan masyarakat mampu menindaklanjuti dengan praktek untuk usaha atau setidaknya dikonsumsi keluarga. “Setelah kami pulang, ibu-ibu bisa memulai praktik sendiri, bisa dijual, bisa terima pesanan es krim jika ada hajatan”, tambah Bu Yannie.

Suasana pelatihan

Hal senada juga diungkapkan pemerintah desa Balerante, melalui Kaur Perencanaan Bapak Jainu, “Dana desa sekarang banyak 1 M lebih, setelah punya ketrampilan, kelompok  bisa mengajukan usulan kebutuhan untuk meningkatkan usaha. Silakan usulkan alat-alat untuk produksi es krim, kerupuk dan lainnya saat ada Musrenbangdes. Ini peluang supaya desa maju. Jangan hanya punya cita-cita bekerja sebagai penambang pasir dan pencari kayu bakar di gunung. Harus lebih maju karena potensi Balerante sangat banyak,”pungkasnya. (nila)

Empat Tahun Sekar Putri Berkarya

Kelompok Sekar Putri

“Umur empat tahun kalau misalnya anak itu masih balita, namun untuk Kelompok Sekar Putri empat tahun ini bukan balita lagi karena kiprahnya sudah luar biasa. Mereka mampu mengakses program-program pemerintah terutama pemerintah Kabupaten  Boyolali. Dan saya sangat bangga dengan semangat dan kekompakan kelompok. Semoga dengan umur empat tahun ini semakin sukses ke depannya” ungkap Ibu Ida dari Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali  Hal ini disampaikan dalam dialog bersama yang mengambil tempat di kebun bibit Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) milik Kelompok Sekar Putri yang  pada hari itu sedang merayakan hari jadi kelompoknya.

Acara ini dihadiri pula dari staf Dinas Peternakan Kabupaten Boyolali, tokoh masyarakat dan kelompok lain seperti dari Tawangrejo, Juwangi, Selo, Andong dan Sambi. Dan yang  menarik dalam forum ini adalah hadirnya pemangku wilayah atau kepala Desa Musuk yang hadir pertama kali semenjak kelompok terbentuk. Hal ini tidak disia-siakan oleh Kelompok Sekar Putri untuk menyampaikan keinginannya supaya dilibatkan dalam Musrenbangdesa dan diakamodirnya kelompok dalam anggaran desa.

Menurut Hartanti ketua Sekar Putri, program dan kegiatan kelompok seperti  pertanian, peternakan, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), pencegahan dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dilakukan oleh paralegal komunitas butuh dukungan dari desa. Dan dari kepala desa menjanjikan akan mengakomodir.

Ibu Ida sedang menyampaikan sambutan dan apresiasi terhadap kelompok

Selain dialog untuk memeriahkan peringatan hari jadi Kelompok Sekar Putri di pagi hari diadakan senam bersama, juga lomba tanaman pekarangan dengan dewan juri terdiri dari Unit Pelayanan Teknis (UPT) Kecamatan Musuk, tokoh masyarakat dan dari SPEK-HAM. Dari penilaian akhirnya terpilih juara 1,2,3 dan favorit. ( Ani, CO PPKBM )

Sholihin, Pemuda Pantang Menyerah dari Kaki Merapi

Sholihin saat bekerja di persawahan

Hamparan bukit menghijau, bentangan ladang luas di kaki Merapi , serta hiasan kabut tipis yang elok bak lukisan indah, menuntunku berjalan menyusuri jalan setapak di kaki bukit Gunung Merapi sebelah timur. Tujuanku adalah Desa Cluntang yang sudah dua tahun menjadi tempatku belajar tentang arti menghargai kebersamaan, dan keberagaman. Hal ini semakin membuatku dahaga untuk lebih jauh tahu tentang arti semangat, kegotongroyongan yang kucoba pahami dengan melihat, mendengar, menyentuh hatinya dengan tutur kata, sikap dan komitmen yang aku miliki . 

Mengenal satu persatu sosok inspiratif penduduk desa ini membuatku merasa sangat kecil dibandingkan dengan besarnya keinginan hatiku untuk berbuat.  Namun dengan semangat dan besarnya tekad aku mencoba urai satu persatu apa yang aku temukan. Aku melihat dan mendengar bersama dengan mereka, insting liarku untuk menuntun dan  mengajak mereka berbuat untuk desanya.  Mereka pun yang sebelumnya cenderung tidak memiliki kepercayaan diri, perlahan mereka mulai bisa menghargai dan mengapresiasi dirinya bahwa tidak ada yang mustahil jika ada niat dan kemauan.  Dengan satu kata yang saya simpulkan bahwa masih adanya semangat muda yang warga desa miliki, menurutku ini magma gerakan yang tak bisa diukur

Di Dukuh Tutup Desa Cluntang banyak pemuda kampung yang memiliki semangat yang perlu diapresiasi karena dengan ketekunan dan kreativitas dan keswadayaan, mereka mengelola potensi desa seperti lembah, bukit, panorama alam, makanan olahan menjadi konsep  desa wisata. Memaksimalkan  pertanian dan peternakan meskipun masih secara manual dan konvesional tetapi itu semua bisa dipelajari sehingga cara mengolah potensi itu menjadi sumber pendapatan. Banyak hal positif yang bisa dipetik dari kehidupan dan penghidupan masyarakat Dukuh Tutup, dukuh kedua teratas di Desa Cluntang.

Di antara pemuda pemuda Dukuh Tutup yang memiliki kepedulian pada tanah kelahiranya , ada satu pemuda yang sangat menginspiratif, seorang petani muda yang memiliki impian dan cita-cita sangat tinggi, namanya Solihin. Solihin, pemuda lulusan SLTA dan berumur 22 tahun, lahir  dari keluarga sederhana. Sehari-hari ia membantu orang tuanya, Sukidi dan Sri Widodo, seorang mustahik yang hidup dari buruh tani gaduh ternak, bekerja di ladang dan juga beternak sapi gaduhan. Pemuda berperawakan kurus ini banyak bercerita tentang keinginannya untuk membahagakan keluarga, mengangkat derajat orangtua hingga keresahannya yang belum bisa membalas  budi pada orang tuanya. “Sedih, Mas. Kalau berbicara tentang orangtua,” ungkap Sholihin.

Hingga pada bulan September 2018, ada peluang program sekolah tani di Malang selama tiga minggu, dan kabar ini ternyata direspon baik oleh Sholihin.  Melalui berbagai tes wawancara dan tertulis akhirnya ia lolos dan bisa mengkuti pelatihan bertaraf provinsi ini bersama perwakilan dari beberapa kabupaten di Indonesia. Lepas dari pelatihan tersebut menurut Sholihin serasa dunia pengetahuan dan jaringan terbuka, maka kesempatan terbentang luas menembus batas.  Hingga Sholihin dikandidatkan pelatihan kedua di Ciamis oleh Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali selama 3 bulan. 

Di sana ia digembleng skil dan juga mentalnya terkait filosofi pertanian, keterampilan komunikasi, salah satunya pelajaran Bahasa Jepang. Hal ini menambah semangat karena bagi siswa yang lolos seleksi nanti akan di kirim magang di Negeri Sakura Jepang selama 3 tahun.  Segala keperluan seperti passport, visa dan lain sebagainya sudah siap, karena kalau tidak ada perubahan bulan Juli nanti ia akan berangkat ke Jepang  

Pengalaman ini setidaknya bisa menginspirasi pemuda-pemuda lainya bahwa apapun, yang diinginkan dan dicita citakan akan bisa terwujud dengan dibarengi kerja keras dan doa serta restu orang tua. Orangtua Sholihin juga sangat bangga pada anaknya, dan akan selalu mendukung anaknya menjadi seorang petani muda yang memiliki ketrampilan bertani moderen dan bisa menjunjung martabat keluarga , di tengah kondisi keluarga yang sederhana ada semangat dan doa orang tua yang tulus. Ke depan,  semoga akan ada Sholihin-Sholihin lainnya yang bisa membawa nama baik Desa Cluntang yang saat ini juga mengembangkan pebangunan tematis yaitu “pembangunan desa wisata terpadu dan berperspektif anak, perempuan dan lingkungan .“

Di akhir cerita sore itu saya bersama Sholihin menikmati senja di lereng Merapi, duduk di bale –bale  menghayal dan dia berucap  Masih seperti mimpi ya, Mas , saya akan bisa belajar ke Jepang selama tiga tahun. Saya akan meninggalkan keluarga saya dalam waktu yang lama. Saya pasti akan kangen semua, orang tua, teman teman serta kabut tipis yang selalu datang di sore hari. Tapi di sana nanti akan ada salju yang lama saya impikan dan ingin saya pegang kala rindu itu melanda . “  (Sunoko)

Kelompok Perempuan Kelurahan Gilingan Srikandi dan Eksistensinya

Kelompok Perempuan Kelurahan Gilingan Srikandi yang pada 17 Juli 2018 lalu telah mengantongi legalitas berupa Surat Keputusan (SK) Kelurahan Gilingan telah mengikuti Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kelurahan (Musrenbangkel) yang diselenggarakan pada Nopember 2018. Proses pelibatan kelompok dalam kegiatan Murenbangkel yang didahului dengan Pra Musrenbangkel melalui berbagai tahapan.

Awalnya Kelompok Perempuan Srikandi yang bertempat di RT 02 RW 05 yang diketuai oleh Sulis, seorang pegiat, menyampaikan kepada Lurah setempat untuk beraudiensi. Setelah beberapa kali menghadap, dan didampingi oleh SPEK-HAM, bahwa kegiatan-kegiatan telah dilakukan oleh kelompok yakni setiap bulan sekali di tanggal 4, lalu kelompok mengundang Joko Partono, S.T, M.Si, Lurah Gilingan untuk hadir dalam pertemuan tersebut. Akhirnya Lurah Gilingan hadir pada pertemuan. Didukung oleh pernyataan Ketua RT 02, RW 05 bahwa Kelompok Perempuan Srikandi sudah banyak melakukan kegiatan di antaranya adalah Bank Sampah dan Pra Koperasi dan Kelompok Pembuatan Karak, akhirnya SK itu terbit.

Kelompok Perempuan Srikandi juga telah mengajukan perijinan Perusahaan Industri Rumah Tangga (PIRT) ke Dinas Kesehatan dan sudah pernah ditinjau, bahkan diberi masukan adanya pemisahan tempat awal pembuatan karak dan tempat penjemuran. Masukan dari dinas akh irnya menjadi pertimbangan sendri dan bahan pemikiran oleh kelompok untuk melaksanakannya. Kelompok juga telah mengajukan proposal alat pengering karak ke bala kota, waktu itu langsung menghadap Wali Kota, FX. Hadi Rudyatmo.

Awal Nopember 2018, Soepadmin, CO (Petugas Lapangan) SPEK-HAM yang mendampingi bersama ketua kelompok menghadap kembali Joko Partono agar dalam Musrenbangkel kelompok bisa dilibatkan secara partisipatif, dengan mengajukan kebutuhan-kebutuhan kegiatan yang selama ini dilakukan oleh kelompok. Saat itu, Lurah menyarankan agar berkoordinasi dengan Ketua RW 05 dan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK). Hal ini karena menurut Joko Partono, semua dana hibah melalui LPMK. Joko Partono juga menganjurkan agar kelompok sekalian mengisi formulir dengan berkoordinasi terlebih dahulu dengan Ketua RW 05. Pengajuan formulir diisi oleh ketua kelompok sebagai data pengajuan di Musrenbangkel.[Soepadmin)

Apem Kampung Sewu, Berdaya dengan Kuliner

Solo, SpekHam.org – Setiap kampung binaan Yayasan Spek-Ham memiliki potensinya masing-masing. Di daerah Kampung Sewu yang juga menjadi bagian dari kampung binaan Spek-Ham, makanan apem jadi barang dagang potensial yang masuk dalam program pemberdayaan. Program pemberdayaan melalui kuliner apem ini juga dijalankan bersama dengan  Kelompok Perempuan Kampung Sewu (KPKS).

Nina, salah satu anggota KPKS yang juga menjadi salah satu pedagang Apem, mengatakan kalau memang di Kampung Sewu terkenal dengan apem sewu. Bahkan Dinas Koperasi & UMKM sampai membuatkan shelter di dekat kelurahan. Tujuannya adalah untuk ikut mempromosikan apem sewu ke khalayak umum. Sayangnya, Nina belum berani membuat apem di luar pesanan, karena resikonya lebih besar.

”Tapi saya sendiri tidak hanya menjual Apem, saya juga menjual ketan, kolak dan lain-lain. Itu untuk tambahan saja. Yang jelas, apem itu sebenarnya yang saya andalkan. Satunya seharga seribu rupiah, kolak, ketan, dan alinnya saya jual tiga ribuan,” ungkap Nina, Selasa (14/8)

Sulis, yang juga merupakan anggota KPKS adalah salah satu pedagang apem yang sudah cukup lama berjualan. Sulis mulai berjualan sejak tahun 2013. Apem yang dijualnya ada beraneka ragam rasa. Ia, tapi sama dengan Nina, belum berani menjual di luar orderan. Ia hanya berani membuat jika ada orderan saja. ”Risikonya itu lho Mas, soalnya Apem kan umurnya ga bisa lebih dari tiga hari,” ujarnya, Selasa (14/8).

Menurut Sulis, walaupun banyak resiko seperti itu, apem sewu tetap memiliki daya tarik tersendiri. Bahkan ia pernah mendapatkan pelanggan dari luar negeri. Tak jarang juga ia mendapat orderan dari luar kota. Untuk solusi apem yang sukar bertahan lama itu Ia sempat mengakalinya dengan menjadikan Apemnya makanan beku dahulu,”Sempat nyari solusi, dan ketemu itu, dijadiin Frozen dulu Mas,” Tambah Sulis.

Pekerjaan rumah bagi pedagang apem sewu lainnya menurut Nina adalah pemasaran dan packagingnya. ”Saya pernah memutar otak untuk memasarkan lewat media sosial seperti Facebook, Instagram, dan yang terakhir ini saya memasarkannya melalui Shopee juga,” tukas Sulis.

 

Taufik Nandito

Mahasiswa Psikologi UMS

MEMBANGUN GERAKAN PEREMPUAN PEDESAAN YANG AKUNTABEL DAN BERKELANJUTAN

Kunjungan Pemerintah Boyolali ke Kelompok Perempuan Sekar Putri

Desa Musuk memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar dan ditunjang keberagaman  penduduk terkait agama, budaya dan kearifan local yang saling berkorelasi. Menjadi sebuah modal untuk membangun masyarakat yang sejahtera.

SPEK-HAM melakukan pendampingan kepada masyarakat di Desa Musuk melalu strategi penguatan kelompok perempuan dan remaja serta advokasi mendorongkan adanya kebijakan pro perempuan. Penguatan kelompok melalui pemberdayaan di bidang ekonomi dan advokasi pemenuhan hak- hak dasar, mendorong para perempuan belajar dan praktek ekonomi kerakyatan seperti pertanian dan peternakan ramah lingkungan, serta belajar tentang perspektif perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam untuk mendukung gerakan terebut.

Dua kelompok perempuan di inisiasi SPEK-HAM sejak tahun 2012 yaitu KWT Rukun Makmur di Dukuh Pengkol dan KWT Sekar Putri Dukuh Karanglo Selatan Desa Musuk. Saat ini, kelompok yang terdiri dari 20 orang perempuan korban kekerasan maupun rentan menjadi korban kekerasan ini memulai proses-proses penguatan secara internal baik dalam ketrampilan managemen kelompok maupun ketrampilan dalam mengelola pengetahuan yang dimiliki anggota.

Beberapa catatan penting terkait strategi yang dilakukan di kelompok ini adalah memperkuat skill dan pengetahuan  kelompok dengan melakukan praktik-praktik penguatan ekonomi melalui kegiatan program tanaman pekarangan, kebun bersama, koperasi dan toko bersama, serta  usaha bersama produksi makanan olahan. Seluruh kegiatan tersebut dilaksanakan dengan sistem pendokumentasian yang baik.

Dalam kerangka memperluas dan membangun keberlanjutan program, kelompok ini mulai membangun dukungan program melalui kemitraan dengan berbagai pihak baik pemerintah maupun dari sektor swasta.

Berbagai penguatan kapasitas pada anggota kelompok untuk membangun kemitraan strategis dilakukan bersama SPEK-HAM melalui sekolah komunitas rutin setiap bulan. Beberapa materi yang dibahas antara lain : advokasi anggaran desa; teknik lobi dan koordinasi dengan pengambil kebijakan; ketrampilan penyusunan proposal program. Tidak berhenti di tataran pengetahuan, kelompok perempuan juga diajak praktek membangun kemitraan strategis dengan berbagai pihak berawal dari  sosialisasi dan pengenalan kepada OPD terkait yang ada di lingkup Kabupaten Boyolali.

  • Februari 2017 loby dan berkoordinasi dengan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali. Membuahkan hasil program pengadaan sarana prasarana untuk Posyandu Kambing berupa timbangan digital.
  • Juli 2017 melakukan loby dan koordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan akhirnya dua bulan kemudian mendapatkan program pasca panen senilai 7.500.000 untuk pengadaan produksi olahan makanan.
  • Desember 2017 juga mengajukan dua proposal sekaligus yaitu pengadaan bibit merica dari Dinas Pertanian dan Program KRPL dari Dinas Ketahanan Pangan untuk pengadaan rumah bibit, kebun bersama, olahan makanan pasca panen, dll. Pada bulan April ini program pengadaan bibit merica sudah turun sebanyak 2000 bibit cabe dan program KRPL senilai Rp. 50.000.000.

Kelompok Perempuan Sekar Putri, Musuk, Boyolali

Banyak pengalaman kelompok perempuan di Desa Musuk Boyolali yang bisa menjadi pembelajaran bersama untuk membangun kemitraan dan dukungan dari berbagai pihak dalam konteks pemberdayaan ekonomi melalui pengelolaan potensi pertanian, peternakan dan keuangan mikro lainnya.  Kelompok yang aktif dengan berbagai program dan kegiatannya menjadi sebuah indikator kelompok tersebut ada dan. Saat ini banyak kelompok di masyarakat yang muncul bahkan telah memiliki badan hukum. Tetapi sebenarnya banyak kelompok yang fiktif, atau hanya di bentuk karena kebutuhan mendapatkan program saja, “dari 10 program yang di turunkan kepada kelompok  bisa  berhasil dan berjalan baik di  5 kelompok saja sudah bersyukur mas, karena pernah punya pengalaman pahit, program yang di turunkan tidak ada yang bertahan sebelum satu tahun , malah kelompok –kelompok ibu ibu itu lo yang bagus dan punya kegiatan dan pencatatan yang baik “ demikian penuturan salah satu Kabid di salah satu OPD di Kabupaten Boyolali.

Hal ini bisa dijadikan ukuran bagaimana kelompok yang produktif, kreatif, tertib admnistrasi dan dokumentasi, serta memiliki ide kreatif yang unik dalam pelaksanaan program pasti akan mendapat peluang sinergi program dengan OPD. Harusnya menjadi refleksi bersama atas pemberdayaan yang dilakukan CSO di komunitas, agar hasil kerjanya lebih dapat terukur dan berkelanjutan, sehingga kelompok sudah menyiapkan sejak dini tentang konsep pemberdayaan yang mandiri dan berkelanjutan.

Noko Alee — CO Divisi SL SPEK-HAM