Search for:

Audiensi SPEK-HAM bersama Ketua DPRD Kabupaten Brebes Bahas Program Pengentasan Kemiskinan

Audiensi SPEK-HAM bersama Ketua DPRD Kabupaten Brebes

Bertempat di ruang Ketua DPRD Kabupaten Brebes, Rabu (23/4), Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK-HAM) melakukan audiensi.  Rombongan SPEK-HAM diterima langsung oleh Ketua DPRD, Dr. H. Illia Amin, M.Pd.

SPEK-HAM menyampaikan program pengentasan kemiskinan yang dilakukan  di Kecamatan Larangan dan Songgom Kabupaten Brebes bersinergi dengan pemerintah daerah dan mendapat dukungan dari Kedutaan New Zealand.

“Sejak 2016 SPEK-HAM mendampingi puluhan petani merintis pengembangan sereh wangi di lahan-lahan marjinal. Pada tahun 2019 ini mulai melakukan pengambangan kawasan atsiri organik di lahan seluas 46 ha di kawasan Watu Geni-Wlahar,” kata Elist pengurus SPEK-HAM.

“Program ini merupakan salah satu pilot penanggulangan kemiskinan berbasis pengembangan  potensi  desa. Sereh Wangi merupakan tanaman yang cocok ditanam di lahan kering dan panas seperti Brebes, dan saat ini pasarnya terserap 100%, baik dalam negeri maupun luar negeri. Hasilnya sudah lebih dari 200 juta yang diterima oleh para petani dari budidaya sereh wangi”, imbuhnya.

Dalam audiensi tersebut disampaikan kebutuhan dukungan dari pemerintah baik eksekutif maupun legisatif untuk kebijakan yang mendukung pengembangan kawasan atsiri organik Watu Geni. Hal yang paling krusial adalah infrastruktur jalan yang menghubungkan lahan dengan jalan raya.  Ketersediaan infrastruktur akan memudahkan petani mengangkut dan memasarkan hasil panen.

Ketua DPRD Kabupaten Brebes Dr. H. Illia Amin, M.Pd menyambut baik dan akan mendukung pembentukan kawasan atsiri organik di Kecamatan Larangan. “Segala program yang muaranya untuk mengentaskan kemiskinan pasti akan kami dukung,” ujar Illia Amin.

suasana audiensi

Pada akhir audiensi, Ketua DPRD Kabupaten Brebes meminta kepada SPEK-HAM menyiapkan peta jalan yang masih membutuhkan perbaikan untuk mendukung aktivitas pertanian warga Desa Pamulihan dan Wlahar di Kawasan Watu Geni. “Nanti kami bersama Bappeda dan DPU akan meninjau lokasi bersama-sama,”tambahnya. (nila)

Memperkenalkan Komoditas Sereh Wangi Perempuan Petani Sereh Wana Makmur ikut Karnaval

Keikutsertaan KTH (Kelompok Tani Hutan) Wana Makmur dalam kegiatan ini berawal dari celetukan bapak-bapak petani ketika sedang diskusi kelompok yang ingin ikut karnaval dengan tujuan memperkenalkan sereh wangi ke masyarakat luas. Namun dalam proses persiapannya, justru petani sereh perempuan yang sangat antusias. Moment ini dirasa tepat karena pada saat kegiatan dipastikan akan banyak sekali orang berkumpul untuk menyaksikan karnaval, sehingga dapat digunakan sebagai ajang promosi sereh wangi. Meskipun tidak semua anggota mengikuti kegiatan ini, hanya beberapa orang sebagai perwakilan namun acara tetap meriah meskipun cuaca cukup panas.

Diharapkan dengan keikutsertaan dalam kegiatan karnaval ini, masyarakat lebih mengenal tanaman sereh wangi dan mengetahui bahwa di Desa Parereja sudah mulai merintis budidaya sereh wangi. Di spanduk yang dibawa oleh kelompok pun ditampilkan foto-foto tentang aktifitas dari mulai penanaman, pemanenan sampai penyulingan sereh wangi. Hal ini bisa membuat “penasaran” masyarakat hingga akhirnya mencari tahu dan bertanya pada kelompok. Melalui karnaval ini diharapkan semakin banyak petani di Desa Pereja yang tertarik mengembangkan komoditas sereh wangi dilahan-lahan marginal yang tidak subur untuk menambah pendapatan petani.. Terlebih lagi untuk pemerintah desa, diharapkan agar dapat memberi perhatian lebih kepada kelompok dan kegiatan budidaya ini.

Amalia Astuti (Community Organizer Brebes)

Perjuangan Merubah Nasib

“Pengelolaan Sumber Daya untuk Pemberdayaan Ekonomi Perempuan”

Ibu Wastip dulunya hanyalah seorang buruh tani yang dalam sehari dapat berpindah dari satu lahan ke lahan lain demi memenuhi kebutuhan dapur. Begitu pula dengan sang suami yang juga berprofesi sebagai buruh tani dan tak jarang untuk menambah penghasilan dengan mencari belalang ke tengah hutan untuk dijual.

Itulah sekilas kehidupan Bu Wastip sebelum bergabung dengan Kelompok Perempuan Mekar Mulia, Dusun Cikrowok, Desa Buara, Kecamatan Ketanggungan, Brebes.

Sejak Oktober tahun 2014, Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK-HAM) melakukan program pemberdayaan perempuan melalui pertanian dan peternakan terpadu ramah lingkungan. Brebes merupakan kabupaten miskin di Jawa Tengah dengan angka kemiskinan 25,98% (Statistik Brebes 2010), mayoritas penduduknya bekerja sebagai buruh tani, sementara itu lahan yang ada sangat luas namun kering disaat musim kemarau.

Melalui kegiatan pengelolaan pertanian yang ramah lingkungan, diharapkan mampu mengembalikan kesuburan tanah dan berdampak pada peningkatan produksi pertanian. Lahan yang awalnya mangkrak karena “nelo” saat musim kemarau, sedikit demi sedikit diolah dengan jenis tanaman yang cocok seperti jahe gajah, sereh wangi, dan pepaya california. Selain dalam hal produksi pertanian, SPEK-HAM juga mendampingi kelompok perempuan dalam mengolah hasil pertanian paska panen menjadi aneka olahan makanan untuk meningkatkan nilai ekonomis.

Kini, kehidupan Ibu Wastip mulai berubah. Beliau beserta suaminya sudah tidak lagi menjadi buruh tani ataupun pencari belalang, saat ini beliau menjadi produsen kripik pisang yang cukup terkenal di dusun Cikrowok, desa Buara, kecamatan Ketanggungan, Brebes. Pisang cukup mudah ditemukan di Desa Buara, jika dijual harganya tidak terlalu tinggi. Namun jika diolah menjadi keripik memiliki nilai jual yang cukup menggiurkan.

“Yang lain udah ga bikin mba, tapi saya terus bikin soalnya ga ada kerjaan lain, apa lagi kalau kemarau bener-bener susah. Saya sangat berterimakasih kepada SPEK-HAM karena sudah mendampingi terus, mungkin sudah jalannya saya ikut kelompok dan ketemu SPEK-HAM” begitu tuturnya.

Setiap harinya omset yang diperoleh antara 200-400 ribu, tanpa perlu berpanas-panasan lagi di bawah terik matahari seperti ketika masih menjadi buruh. Hingga saat ini beliau mengaku sudah dapat membeli motor untuk mempermudah pengiriman produk, walaupun banyak juga konsumen yang datang sendiri ke rumah. Selain menjadi produsen keripik, Bu Wasti pun menerima pesanan pembuatan kue-kue basah untuk acara hajatan. (Amalia Astuti/Nila Ayu)