Search for:

Mengulik Pemberdayaan di Desa Cluntang, Musuk, Boyolali

Cluntang merupakan salah satu Kelurahan di Kecamatan Musuk, Boyolali dimana lokasinya berada di lereng Gunung Merapi yang membuat iklim di Cluntang sejuk dan dingin. Pemandangan Gunung Merapi yang bersembunyi di balik Gunung Bibi menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk mengunjunginya. Peluang inilah yang diambil oleh salah satu warga Cluntang untuk membuat sebuah objek wisata Tanjakan Cinta, begitulah orang sekitar  menyebutnya. Wisata yang berdiri sejak 2019 ini selalu ramai dikunjungi, sampai akhirnya pandemi menyerang sehingga mau tidak mau tempat wisata di Cluntang harus tutup.

Kelurahan yang berlokasi di lereng Gunung Merapi ini menjadikan mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Berbagai macam tanaman dan sayuran tumbuh subur, seperti kubis, cabai, bawang merah, kentang, tomat, bunga mawar, dan tembakau. Sampai sekarang produksi tanaman dan sayuran dari Cluntang terus berkembang, hal tersebut tidak lepas dari peran SPEK HAM dan Baznas Boyolali dalam program Zakat Community Development sebagai pendamping dengan anggota 67 orang. Salah satu produk dampingan SPEK HAM adalah produksi olahan bunga mawar, yang sebelumnya hanya dijual rancangan menjadi olahan berupa teh mawar, keripik mawar, pilus, dan sirup. Masyarakat yang memproduksi olahan mawar tergabung dalam Kelompok Putri Mawar, diinisiasi oleh SPEK HAM tahun 2016. Kelompok Putri Mawar ini telah mempunyai alat produksi sendiri, seperti cabinet dryer sebagai pengering, mesin spinner untuk penghilang minyak, timbangan, alat press manual kantong teh, dan alat pendukung lainnya.

Kondisi lingkungan yang mendukung akan pertumbuhan bunga mawar membuat hampir setiap rumah memiliki tanaman mawar. Jenis tanaman ini dapat dipanen setiap hari, sehingga produksi mawarnya pun sangat melimpah. Teh mawar dan keripik mawar merupakan produk yang paling laku di pasaran, olahan mawar ini telah dipasarkan melalui toko oleh-oleh, online, dan melalui mulut ke mulut. Produk mawar yang telah mempunyai sertifikat halal dan izin PIRT ini, 1 kotak teh celup mawar 20 gr seharga 15.000, sedangkan kripik mawar seharga 10.000. Selain produksi olahan mawar, Cluntang juga kaya akan produksi bawang merah. Berkah Tani merupakan kelompok petani bawang merah di Cluntang yang berdiri tahun 2017 dengan anggota 21 orang. Penanaman bawang merah diminimalisirkan penggunaan pupuk kimia agar bersifat ramah lingkungan.  Namun dengan begitu, ketika sampai di pasar bawang merah organik dan non organik masih dijadikan satu, sehingga perolehan harga belum terdapat perbedaan yang signifikan. SPEK-HAM bekerja sama dengan Baznas Boyolali juga memberikan beberapa ekor kambing kepada 5 warga Cluntang, harapannya dari ternak kambing tersebut dapat meningkatkan produktivitas masyarakat. (Hanifah Aufia R Mahasiswa UGM_Magang SPEK-HAM, September 2021)

Melihat Lebih Dekat Budidaya Cabai Desa Cluntang

Pertanian cabai menjadi komoditas yang diandalkan oleh petani di Desa Cluntang, tidak diragukan lagi jika hampir semua petani di Desa Cluntang menanam komoditas tersebut lantaran cabai sesuai dengan iklim dan kontur tanah yang ada di Desa Cluntang, selain itu cabai memiliki perawatan yang mudah serta pangsa pasar yang baik. Cabai memiliki keunggulan dengan cukup sekali tanam, kita dapat memanennya berkali-kali sepanjang tahun. Meskipun harganya fluktuatif tetapi tetap berpotensi memberi pendapatan yang baik bagi petani.

Namun nyatanya pertanian di Desa Cluntang tidak semudah yang dibayangkan, berada di lereng Gunung Merapi serta berjarak 4,5km secara garis lurus kadangkala menjadi hambatan tersendiri pada pertanian di Desa Cluntang. Aktivitas vulkanik dari Gunung Merapi dapat berpengaruh pada tanaman yang telah ditanam oleh petani apabila terjadi dengan intensitas yang tinggi seperti hujan abu pada 27 Januari 2021 lalu, tanaman cabai tampak layu terguyur abu dan tentunya dapat berpengaruh pada perkembangan tanaman tersebut.

Hama tanaman dan virus juga menjadi kendala dalam pertanian cabai kini, seperti yang dikatakan oleh Bapak Murtamaji (53) “Hama biasanya ya ulat, kadang juga rumput tapi semua sudah ada solusinya. Kendala yang belum obatnya itu virus, daun-daun ada bercak hitamnya, solusinya hanya dicabut”. Perawatan secara rutin dan perhatian petani diperlukan untuk mengatasi hama dan virus tersebut agar tanaman cabai dapat berkembang dengan baik dan memberi hasil yang optimal. Namun sayangnya petani dalam perawatannya masih kurang konsisten. Ada beberapa petani yang kurang merawat tanamannya sehingga dipenuhi dengan rumput, hal tersebut kurang baik bagi tanaman dan bukan tidak mungkin  dapat menyebabkan hasil panen tidak maksimal atau bahkan mungkin gagal.

Ada juga petani yang dalam perawatannya sangat baik, rumput- rumput dicabut sehingga tidak mempengaruhi perkembangan tanaman cabainya. Pendampingan secara rutin dan intensif kepada petani diperlukan agar pertanian cabai khususnya di Desa Cluntang dapat berkembang dan optimal. Dalam hal ini SPEK-HAM hadir  untuk membantu masyarakat mengembangkan pertanian cabai. Melalui program Zakat Community Development (ZCD) bekerjasama dengan BAZNAS RI petani diarahkan dan didampingi agar budidaya cabai dapat berhasil nantinya. Harapannya penghidupan berkelanjutan petani dapat terjamin dan dapat terus menjadi tumpuan perekonomian masyarakat. M.T Huda (CO Divisi Penghidupan Berkelanjutan)

Komitmen Pemerintah Daerah pada program pemberdayaan ekonomi masyarakat desa melalui pengelolaan potensi lokal

Audiensi dengan Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Boyolali

SPEK-HAM bersama Baznas Kabupaten Boyolali, dan perwakilan kelompok Pra Koperasi Syari’ah Miftahul Ulla Desa Cluntang Kecamatan Musuk Boyolali mengadakan audiensi dengan Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Boyolali yang bertempat di Aula Kantor Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja Kab. Boyolali.

Audiensi ini merupakan rangkaian upaya advokasi dari Yayasan SPEK-HAM dan Baznas Kabupaten Boyolali untuk mendorong kemajuan dan berkembangnya program di Desa Cluntang terutama yang berkaitan dengan koperasi & UMKM serta agar mendapat fasilitasi dan pendampingan dari dinas terkait.

Audiensi ini dihadiri oleh Direktur dan Badan Pengurus Yayasan SPEK-HAM, pendamping lapangan, Ketua Baznas Kabupaten Boyolali, dan perwakilan kelompok pra koperasi syariah Miftahul ‘Uula serta KWT Putri Mawar. Audiensi diterima langsung oleh Syawalludin Kepala Dinas Koperasi dan tenaga kerja Kabupaten Boyolali bersama jajarannya

Kegiatan ini diawali dengan pengenalan profil Pra Koperasi Syari’ah Miftahul ‘Uula serta pengenalan terhadap produk-produk olahan mawar dari KWT Putri Mawar. Setelah itu dilakukan pemaparan mengenai kondisi dari Pra koperasi dan KWT Putri Mawar. Dan dilanjutkan diskusi terkait dengan apa yang menjadi hambatan dan apa yang dibutuhkan oleh masing pra koperasi dan produk olahan mawar ini. 

Hasilnya disepakati bahwa Dinas Koperasi dan tenaga kerja berkomitmen mendapingi penguatan kelembagaan Pra Koperasi Syariah Miftahul ‘Uula hingga berbadan hukum koperasi.

Sedangkan untuk produk olahan mawar, Dinas Koperasi dan tenaga kerja akan memfasilitasi peralatan yang dibutuhkan dan membantu pemasarannya sehingga dapat berkembang dengan baik. Sinergi antara SPEK-HAM, BAZNAS Kabupaten Boyolali dan Pemerintah Daerah dalam program pemberdayaan ekonomi masyarakat desa melalui pengelolaan potensi lokal diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya perempuan. Huda – CO Sustainable Livelihood

PEREMPUAN PEDESAAN BERGERAK MENYIKAPI DAMPAK COVID-19

Virus corona yang sejak bulan Maret 2020 menjadi persoalan utama bangsa saat ini. Di awal – awal muncul pemberitaan di media tidaklah menjadi topic yang menarik untuk di bicarakan, hanya sekilas-kita lihat berita di televisi atau media social. Di desa-desa khususnya di Kecamatan Musuk orang-orang lebih tertarik berbicara tentang harga bunga mawar, penanaman tembakau, dan ternak di banding ngobrol tentang Covid-19 ini.

Dari data nasional, provinsi dan juga kabupaten/ kota yang di muat di media tv yang awalnya hanya memberitakan 2 sampai 5 kasus yang di temukan. Semakin lama data yang meninggal karena Covid19 semakin gencar diberitakan, kasus sudah mencapai ribuan hingga akhirnya tembus ke angka 14.000. Pemerintah desa mulai mengambil sikap untuk mencegah, minimal melakukan koordinasi dengan bidan desa, puskesmas tingkat kecamatan untuk meng-update data dan juga informasi pada masyarakat untuk melakukan PHBS demi mencegah penularan virus Corona.

Ternyata Pandemic Covid19 tidak hanya berbicara tentang kesehatan. Dampak dari pandemic ini sangat luas, terutama di sector ekonomi. Hal ini sangat dirasakan oleh perempuan di Desa Cluntang Kecamatan Musuk Boyolali. Biasnaya pada bulan ruwah adalah berkah bagi petani mawar di Desa Cluntang. Masyarakat yang selama ini mengandalkan bunga mawar menjadi primadona menjelang bulan ruwah, harus menelan pahit dengan adanya pembatasan sosial dan larangan berkegiatan ritual, keagamaan dll. Pada tahun-tahun sebelumnya saat bulan ruwah bunga mawar bisa laku sampai Rp. 200.000 per rinjing. Namun setelah ada Covid19 ini, bunga mawar hanya laku Rp. 10.000 per rinjing.

Hasil pertanian seperti sayuran juga tidak bisa keluar bebas karena ada pembatasan para orang luar masuk wilayah Desa Musuk dan Desa Cluntang termasuk para tengkulak. Kondisi ini sangat dirasakan oleh masyarakat khususnya perempuan di Musuk dan Cluntang. Bahkan angsuran pra koperasi simpan pinjam kelompok perempuan tidak ada yang mengangsur, karena tidak adanya pendapatan yang masuk. Saya mencoba melakukan diskusi dengan ibu-ibu baik di kelompok Putri Mawar Desa Cluntang, Rukun Makmur Desa Musuk, kelompok Sekar Putri Desa Musuk juga komunitas peduli TPPO Kecamatan Musuk untuk menyikapi situasi ini, apa yang bisa dilakukan? Solusi yang bisa dilakukan oleh perempuan adalah membuat produksi aneka makanan dari bahan-bahan lokal seperti aneka lauk, kue kering, es cream, minuman tradisional, termasuk hasil pertanian bawang merah dll. Pemasaran dibantu oleh pendamping dari SPEK-HAM secara langsung maupun secara online lewat media social.

Tidak disangka ternyata hasilnya cukup membuat para perempuan di komunitas bersemangat. Setiap dua atau tiga hari sekali pada datang kerumah saya untuk berdiskusi, setor produk, ambil uang dan juga menciptakan produk baru. Peluang-peluang seperti ini yang harusnya di respon cepat oleh perempuan, karena mereka yang lebih paham kebutuhan dan potensi yang dimiliki.

Situasi pandemic yang kita belum tahu kapan akan berakhir, harus di sikapi dengan bijaksana, segala upaya dilakukan, tetapi persoalan ekonomi keluarga harus menjadi focus. Setiap individu di kelompok saling mensuport, program-program pra koperasi menjadi solusi saat sulit seperti ini sehingga kita bisa lewati bersama dengan baik. (Noko/NL)

Refleksi BUMDes Lentera Desa Cluntang: Butuh Restrukturalisasi, Manajemen, dan Dukungan Pemerintah Desa

Proses Refleksi BUMDes dipimpin ibu Kepala Desa Cluntang

BUMDes yang diberi nama LENTERA tersebut sudah berdiri sejak tahun 2017 atas inisiasi masyarakat dan pemerintah desa, yang dalam proses pembentukannya didampingi oleh SPEK-HAM. BUMDES  yang memiliki tiga unit usaha  dibentuk atas pertimbangan potensi yang dimiliki oleh Desa Cluntang Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali Jawa Tengah. Tiga unit usaha tersebut adalah Unit Usaha Wisata, Unit Usaha Peternakan dan Pertanian, serta Unit Keuangan Mikro (Koperasi Simpan Pinjam). Dari tiga unit tersebut telah berjalan beberapa kegiatan antara lain pengembangan Camping Ground  dan selfie spot ditempat yang popular akan pengunjung Tikungan Cinta (TC), serta rencana pengembangan Pusat Pembelajaran Pertanian, dll.

BUMDes dibentuk dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat desa, terlebih perempuan. Partisipasi aktif dari masyarakat dalam mengelola BUMDes menjadi nilai positif yang seringkali terlupakan. Selama ini focus dari BUMDes melulu soal keuntungan. Berbeda dengan BUMDes Lentera yang mengedepankan partisipasi masyarakat dalam membentuk dan mengelola, saat ini usaha desa tersebut sudah meningkatkan akses ekonomi pada perempuan. Ada  10 perempuan dapat membuka usaha di kawasan wisata Tikungan Cinta yang dikelola oleh BUMDes, 5 perempuan membuka usaha catering jika ada event acara di Kawasan Tikungan Cinta, 52 perempuan (49%) sebagai anggota koperasi
Arta Lentera.

Namun demikian dari hasil refleksi bersama yang diselenggarakan pada 27 Februari 2020 yang lalu, dalam prakteknya BUMDes Lentera belum dapat optimal mencapai tujuan tersebut. Beberapa factor penyebab kurang maksimalnya kinerja BUMDes seperti kepengurusan yang kurang optimal, terdapat beberapa pengurus yang smasih belum terlihat komitmennya dalam menjalani tugas memajukan BUMDes Lentera.

Usaha potensial yang kedepan lebih dikembangkan lagi adalah Koperasi Simpan Pinjam dan usaha wisata. Dengan perencanaan tersebut, BUMDes dan pemerintah desa perlu menyiapkan kader-kader baru yang mampu berkomitmen dalam pengembangan BUMDes Lentera. Dukungan dan sinergi pemerintah desa sangat diharapkan untuk mengembangkan unit usaha BUMDes ke depan, penyertaan modal masih menjadi tantangan dari banyaknya pekerjaan rumah penyelesaian infrastruktur desa. Dalam kebijakan yang mengatur, kepemilikan modal 51 % adalah dari desa. Jika dikelola dengan managemen yang efektif dan efisien, maka ke depan BUMDes bisa menjadi sumber pendapatan desa dalam melakukan program pembangunan secara otonom. Nila- Manager Divisi SL

Penguatan Pengurus Pra Koperasi Syariah Miftahul Uula Desa Cluntang Boyolali

Penyerahan Bantuan Modal Pra Koperasi Syariah oleh Ketua BAZNAS Boyolali kepada Ketua Pra Koperasi Syariah Miftahul Uula Desa Cluntang/foto : Chika

Selama dua hari, SPEK-HAM bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menyelenggarakan kegiatan dalam program Zakat Community Development (ZCD) yang bertajuk Penguatan Pengurus Pra Koperasi Syariah Miftahul Uula bertempat di Dukuh Cluntang, Boyolali. Pelatihan yang diselenggarakan di rumah Bapak Qofar, ketua Pra Koperasi Miftahul Uula, tersebut dihadiri oleh pengurus pra koperasi, beberapa anggota SPEK-HAM, Baznas, dan warga Cluntang. Acara diisi oleh Jamal Yazid, Dewan Pengawas Syariah bersertifikasi di Kabupaten Boyolali.

Pra Koperasi Simpan Pinjam Syariah didirikan dengan prinsip-prinsip yang meringankan, dan tolong-menolong. Pra Koperasi Syariah menjawab kebutuhan adanya lembaga keuangan yang membantu kesejahteraan masyarakat dengan prinsip-prinsip syariah.  

Pada hari Selasa (28/1) disampaikan materi tentang pengenalan konsep pra koperasi syariah kepada para peserta. Menurut penjelasan Jamal Yazid yang akrab dipanggil Pak Jamal, salah satu kegiatan usaha yang bisa dilakukan oleh sebuah KSPPS (Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah) adalah dalam bentuk simpanan dengan dua jenis imbalan yaitu tabungan atau wadiah (titipan) dan simpanan berjangka atau mudharabah (bagi hasil). Jenis usaha yang sering dilakukan adalah Murabahah (jual beli) dan Ijarah (jasa).

Selain pendalaman tentang konsep dan produk KSPP, dalam pelatihan ini para pengurus pra koperasi juga belajar tentang praktik tata cara pembukuan pra koperasi syariah. Materi disampaikan oleh Sri Sumarti dari Koperasi Mitra Sejahtera. Pra Koperasi yang berjalan mulai Oktober 2019 yang lalu saat ini sudah beranggotakan 50 orang. Dalam kegiatan tersebut, juga diserahkan bantuan modal pra koperasi sebesar 50 juta bagi 50 anggota yang masuk dalam kelompok masyarakat miskin. Bantuan diberikan secara simbolis dari Baznas ke pihak Pra Koperasi disaksikan oleh peserta pelatihan, Direktu Yayasan SPEK-HAM Rayahu Purwa dan Kepala Desa Cluntang Suryati yang saat itu menyempatkan diri untuk hadir. (Chika)

Pelatihan Dasar-Dasar Koperasi Syariah oleh BAZNAS Boyolali

Jamal Yazid, Ketua Baznas Kabupaten Boyolali menjadi narasumber pelatihan dasar koperasi syariah

Selawat Nariyah terdengar membahana di sebuah rumah warga di Dukuh Tutup, Desa Cluntang, Kecamatan Musuk. Seorang perempuan memegang pengeras suara dan melantunkan dengan sedang dan diikuti para perempuan dan laki-laki. Selain Selawat Nariyah, juga terdengar Selawat Badar menjelang hadirnya Jamal Yazid, Ketua BAZNAS Kabupaten Boyolali dan tamu lainnya.

Hari itu, 50 orang anggota Kelompok Putri Mawar, Kelompok Berkah Tani dan mustahik pengurus masjid sekitar menjadi peserta pelatihan dasar-dasar koperasi syariah yang diselenggarakan oleh SPEKHAM bekerja sama dengan BAZNAS Kabupaten Boyolali. Selain menghadirkan Jamal Yazid, ketuanya, juga hadir Agus Handoyo, Kabid Koperasi Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Boyolali serta Suryati, Kepala Desa Cluntang. Para mustahik mendapatkan pelatihan selama dua hari 29-30/10 secara gratis karena difasilitasi oleh BAZNAS.

Agus Handoyo memaparkan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mendirikan sebuah koperasi. Agus berpesan kepada calon pengurus dan anggota koperasi syariah untuk tidak meremehkan saat koperasi masih kecil, karena jika dikelola dengan baik, maka koperasi bisa menjadi besar. Menurutnya memang sudah ada koperasi di desa, namun hendaknya tidak saling bersaing tetapi bersinergi. Karena tentu koperasi syariah beda dengan koperasi konvensional. Dalam pendirian koperasi ini memang butuh kader muda, kalau bisa yang sekolahnya tamatan SMK/SMEA, dan bisa menjadi pengurus.

Sedangkan Jamal Yazid, lebih banyak berbicara tentang kaidah0kaida yang ada di dalam koperasi syariah. Menurutnya, mengapa harus koperasi syariah dan bukan yang lainnya karena koperasi ini memiliki akad (perjanjian) yang sesuai prinsip-prinsip syariat Islam yakni hukum Islam yang berdasarkan fatwa MUI melalui Dewan Syariah MUI. Dirinya berharap para mustahik, 50 orang yang hadir ini akan menjadi cikal bakal koperasi syariah. Selain menjelaskan tentang hukum akad (perjanjian), Jamal juga memaparkan tentang perbedaan zakat, sedekah, dan infaq.

Suryati, Kades Cluntang, Nila Ayu, petugas BAZNAS dan Sunoko

Nila Ayu Puspaningrum dari SPEKHAM sebelumnya mengatakan bahwa pelatihan ini selain memberi pembekalan ilmu pengetahuan, juga akan ada dana stimulan per anggota koperasi sebesar 1 juta rupaih dari BAZNAS yang digunakan untuk modal (ditabung) dan tidak boleh diambil. Pelatihan hari kedua nanti lebih pada praktik langsung tentang pembukuan yang akan difasilitasi oleh SPEKHAM serta penyusunan kepengurusan koperasi syariah. (red)

Pembelajaran Pertanian Organik Bawang Merah yang Terdokumentasi

Dua orang petani bawang merah organik

“ Pertanian bawang merah ramah lingkungan, menjadi awal pembelajaran bagi petani Berkah Tani Desa Cluntang , Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali “

Lereng Merapi sebelah timur masih terlihat kokoh, menghijau dan hawa dingin hampir mendekati  20 derajad semakin menusuk tulang para penghuninya. Geliat semangat para penggerak pertanian di pagi hari terlihat ramai menyusuri jalan-jalan kecil desa, pematang ladang, jalan-jalan menuju bukit dengan membawa arit, tali pengikat. Pupuk kandang dipanggul oleh para lelaki. Di belakang berjalan para perempuan yang dengan semangat berjalan kaki dengan baju lengan panjang, sepatu boot, melangkah mantap menatap hamparan lahan pertanian. Di sanalah penghidupan dan kepulan asap dapur diharapkan, hasil-hasil petanian yang dihasilkan dari tangan, doa dan ucapan para perempuan.

Pada Maret 2019, melalui diskusi panjang oleh petani-petani yang tergabung dalam Kelompok Berkah Tani Dukuh Tutup, Desa Cluntang serta diperkuat para mentor Sekolah Tani Tri karya Manunggal dari Rt Jelog, Gondang Tutup yang terdiri dai 10 orang maka disepakati, diikrarkan untuk melakukan kegiatan pertanian ramah lingkungan. Sistem pertanian lebih aman untuk lingkungan, lebih sehat dan menyehatkan tanah. Dengan melakukan serangkaian perawatan dan teknik budi daya pertanian ramah lingkungan berarti mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida. Di awal-awal tidak mudah menjelaskan tentang konsep ini, tetapi dengan pertemuan-pertemuan, penguatan dari dinas-dinas terkait, maka komitmen itu disepakati dan dituangkan dalam catatan bahwa anggota akan menyediakan lahan pertanian untuk praktik pertanian ramah lingkungan ini

Dari kesepakatan bersama 21 anggota yang tergabung dalam mustahik kelompok Berkah Tani, mereka menyepakati menyiapkan tanah-tanah mereka yang berkisar 300m sampai 750 m untuk praktik budi daya bawang merah ramah lingkungan. Kegiatan pun dimulai dengan pembuatan pupuk secara bersama-sama, PGPR untuk penguat dan penyubur tanah dan juga penyiapan bibit bawang merah unggul. Setiap petani akan mendapatkan 80 kg benih, yang akan ditanam di lahan masing-masing sesuai dengan tahapannya. Tetapi untuk pembelajaran ada praktik kebun bersama di kebun Bapak Jumadi dengan tiga teknik bertani yaitu dengan media tanah, polybag dan mulsa.

Tahapan-tahapan pertanian sudah diterapkan oleh para petani, baik mulai penyiapan pupuk kandang, fermentasi, penyiapan lahan, penanaman bibit, perawatan yang terdiri dari penyemprotan, penyiangan rumput dan juga penghilangan parasit atau kutu jika tanaman diserang kabut. Semua anggota sudah mendapatkan pengetahuan yang sama, dan eksekusi selanjutnya terkembali pada kemampuan, komitmen dan juga niat masing-masing anggota, sehingga hasilnya membutuhkan 75 sampai 80 hari akan terlihat

Kegiatan pertanian ini juga dibutuhkan dokumentasi yang baik. Semua kegiatan dari awal sampai panen, diharapkan pencatatannya juga dilakukan secara rutin baik meliputi data awal mustahik, perawatan yang dilakukan, temuan atau pengalaman menarik, sehingga setiap berkala bisa di jadikan analisa. Para mentor sekolah tani dibagi menjadi tiga kelompok masing-masing 4 orang dengan melakukan monitoring di 7 sampai 8 mustahik sehingga perkembangan dari para mustahik tani ini bisa terdokumentasi dengn baik dalam bentuk catatan, foto maupun video.

Dalam kegiatan praktik pertanian ramah lingkungan ini juga tidak lepas dari peran para perempuan, istri maupun keluarga dari para mustahik. Mereka terlibat sejak menjadi peserta sekolah tani, praktik membuat pupuk, mempersiapkan lahan, merawat hingga panen tiba. Dari tangan-tangan peremuan serta doa-doa tulus keluarga praktik tanaman bawang merah inipun sampai tiba pada panen. Hari itu tepatnya pada saat idul fitri maupun setelah idul fitri, masing-masing petani mustahik melakukan panen di hari ke 75 maupun ke 80. Tentunya dengan alasan berbagai macam seperti kondisi bawang yang keburu diserang hama maupun serangan kera, atau dengan alasan kalau tanpa pupuk kimia maka diperlukan waktu lebih lama agar  bawang merah lebih memiliki bobot.

Dari hasil pengalaman kami ada beberapa hal yang dicatat selama praktik ini dilakukan, antara lain penyiapan lahan yang tidak berbarengan berakibat pada hasil yang tidak sama karena terkait dengan bibit bawang merah yang tidak segera ditanam. Perawatan yang tidak kontinyu khususnya penyiangan rumput liar dan juga penyemprotan yang kurang konsisten antara petani satu dengan yang lain. Penyebab ketiga adalah perlakuan terhadap tanaman oleh beberapa petani, mereka yang intens setiap hari datang untuk melihat perkembangan tanaman tetapi ada beberapa petani yang kurang rutin.  Kebanyakan mereka bekerja sebagai buruh di luar desa berangkat pagi, pulang sore sehingga tanaman kurang terurus. Sedangka perempuan juga harus melihat dan merawat tanaman lainnya sehingga secara tenaga dan waktu tidak cukup.

Tetapi dari praktik yang berlangsung ini setidaknya ada pembelajaran baik dapat dirasakan dari hasil diskusi yang selama tiga bulan ini intens dilakukan. Pembelajaran untuk melakuka kegiatan pertanian dengan modal tidak hanya uang, lahan tetapi doa dan komitmen yang juga harus diucapkan. Yang kedua mereka belajar tentang bagaimana dalam kegiatan bertani harus di managemen dari modal, tenaga, pupuk, dihitung sehingga mereka bisa mengetahui untung dan rugi dalam bertani yang mengarah pada pertanian moderen. Ketiga adalah mereka memiliki pembelajaran bersama yang dihasilkan dari diskusi setiap tahapan bertani dan dilakukan analisa bersama. Analisa berguna sehingga ke depan bisa menjadi modul pembelajaran yang baik dan dari kegiatan ini setidaknya mereka juga punya hasil bawang yang lebih sehat.

Ke depan ini akan menjadi investasi kesehatan. Terkait hasil kiloan dari masing masing mustahik yang naik dari modal bibit 50 sampai 200 persen adalah bonus dari komitmen, kerja keras. Kegiatan ini tak lepas dari dukungan yang luar biasa dari SPEK-HAM selaku pendamping lapangan yang bermitra dengan  BAZNAS melalui program Zakat Community Development (ZCD) yang akan menjadi pioneer  petanian ramah lingkungan di Desa Cluntang. (noko alee)